Tugas: Makalah
PENILAIAN
AUTENTIK
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Evaluasi Progran dan Pembelajaran PAI
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Jafar
Ahiri, M.Pd.
OLEH
WA ODE SYAMSINAR NADIA
NIM: 1604020202023
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI
KENDARI
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa
tercurah kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, nikmat dan karunia-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Penilaian Autentik”
sesuai dengan waktu yang diharapkan. Makalah
ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Program dan Pembelajaran
PAI..
Makalah ini membahas tentang penilaian autentik
yang mencakup portofolio, unjuk
kerja/kinerja, penilaian proyek, penilaian diri, penilaian antar teman. Selain itu, untuk memperdalam pengkajian penilaian
autentik maka penulis memberikan penjelasan beberapa pendapat para tokoh. Informasi yang dihasilkan dalam makalah ini
menjadi referansi penting dalam memahami penilaian secara parsial dan
komprehensif.
Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak
merujuk referensi dari buku Evaluasi Pendidikan. Referensi lain diperoleh dari
informasi yang berkembang dari diskusi para pakar tentang penilaian autentik di
media cetak dan elektronik. Selain itu,
untuk memperkaya khasanah penilaian, penulis juga banyak menerima masukan dari
rekan-rekan mahasiswa S2 Pendidikan Agama Islam IAIN Kendari. Olehnya itu,
penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat
diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Selain itu, penulis berharap makalah
ini dapat memberikan informasi bagi pembaca sehingga bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua terutama
tentang Penilaian Autentik
Kendari, 17 April 2017
Penulis,
Wa Ode Syamsinar Nadia
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ........................................................................................ i
Kata Pengantar........................................................................................... ii
Daftar Isi .................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................... 1
A.
Latar Belakang................................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah ........................................................................... 3
BAB II. PEMBAHASAN.........................................................................
A. Konsep Dasar Penilaian Autentik................................................... 4
B. Rubrik Penilaian Autentik............................................................... 9
BAB III. PENUTUP..................................................................................
A.
Kesimpulan ................................................................................... 16
B.
Saran ............................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 18
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sejak sepuluh
tahun terakhir terjadi peningkatan yang sangat cepat dalam penentuan penilaian
pendidikan. Bentuk penilaian yang biasa digunakan adalah tes pilihan ganda.
Ketika penilaian jenis ini dirasa tidak cukup merepresentasikan kemampuan nyata
peserta didik, pendidik mulai
mencari alternatif lain. Selanjutnya, pendidik menitikberatkan penilaian
aktivitas dalam kelas. Penilaian
alternatif terdiri dari sejumlah metode untuk menemukan apa yang perta didik ketahui atau dapat
lakukan yang menunjukkan perkembangan dan informasi bahan pembelajaran, dan
salah satu bentuk penilaian tradisional adalah tes pilihan ganda. Penilaian alternatif didefinisikan
merujuk pada penilaian autentik
karena penilaian ini mencerminkan pada aktivitas kelas dan keadaan yang
sebenarnya. Pelaksanaan
penilaian autentik didasari oleh dua hal yakni penilaian tradisional tidak
dapat sepenuhnya menunjukkan kemampuan siswa dan guru mengalami kesulitan
menggunakan informasi yang diperoleh untuk perencanaan bahan-bahan
pembelajaran. Tes pilihan ganda tidak akurat/representatif untuk
mengetahui kemampuan berpikir siswa yang berhubungan dengan kurikulum. Tipe tes
ini tidak dapat menggambarkan kemajuan pembelajaran dan bagaimana siswa
belajar. Selain itu, hasil penilaian dengan tes pilihan ganda sering kali tidak sesuai
dengan yang ditunjukkan peserta
didik
di dalam kelas. Padahal, guru memerlukan informasi tersebut sebagai ukuran
apakah mereka dapat menyelesaikan tugas pembelajaran dengan baik/tidak. Informasi
ini digunakan untuk perencanaan instruksional dan sebagai bahan umpan balik
untuk memonitor kemajuan peserta
didik.
Perkembangan terakhir saat ini yang menjadi perhatian
pendidik, sekolah, dan pemerhati pendidikan adalah bagaimana bentuk penilaian
dapat diaplikasikan untuk menilai pengetahuan dan kemampuan siswa yang
diperoleh berfungsi efektif untuk masa depan dan masyarakat kompleks (hal ini
tidak ditunjukkan oleh tes pilihan ganda). Sekolah dan pemerhati pendidikan
melihat bahwa sekolah sukses harus mampu memproduksi generasi baru dengan
kemampuan yang dibutuhkan 10 tahun yang akan datang. Oleh
karena itu, dibutuhkan suatu bentuk penilaian, perkembangan pengukuran baru
yang lebih baik. Proses
pembelajaran merupakan kegiatan yang berkesinambungan mulai dari tahap
perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Sebagai komponen yang
tidak terpisahkan dalam sebuah pembelajaran, penilaian digunakan guru untuk
memperoleh informasi tentang pembelajaran yang dilakukan. Dalam dunia pendidikan,
ada tiga istilah yang digunakan bergantian pemakaiaannya atau bahkan disamakan
pengertiannya tetapi
secara esensi berbeda. Ketiga istilah tersebut adalah penilaian (evaluasi,
evaluation), pengukuran (measurement), dan tes (test). Penilaian adalah suatu proses untuk
mengetahui (menguji) apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu
program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan. Istilah
yang kedua, pengukuran merupakan bagian dari alat penilaian dan selalu
berhubungan dengan data-data kuantitatif, misalnya skor peserta didik. Istilah
yang terakhir, yaitu tes merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi
(kemampuan) peserta didik. Tes ini biasanya lebih popular dengan kata ujian
atau ulangan. Tes adalah
sebuah sarana yang digunakan untuk mengetahui contoh perilaku individual yang
diamati, dievaluasi, dan diberi skor dengan standar prosedur tertentu.[1]
Tes ini
bertujuan untuk mengetahui informasi secara lebih spesifik tentang pencapaian
materi yang telah diajarkan. Dengan adanya tes, pendidik akan mengetahui secara
lebih nyata hasil dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pengukuran
adalah seperangkat aturan untuk menilai tingkat pencapaian yang ditunjukkan
objek, ciri-ciri, atribut, dan sikap siswa. Penilaian adalah sebuah prosedur
sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan
untuk menyimpulkan karakteristik peserta
didik
atau objek untuk mencapai tujuan pendidikan. Penilaian harus mampu memberikan
pemahaman secara spesifik terhadap karakteristik peserta didik yang dilakukan
secara terintegrasi. Jadi, dapat dikatan bahwa tes merupakan salah satu metode
pengumpulan informasi dan merupakan salah satu alat dalam penilaian. Oleh
karena itu, penilaian memiliki cakupan yang lebih luas daripada tes. Penilaian merupakan proses pengumpulan
hasil dari pencapaian pembelajaran siswa. Hal ini tidak hanya sekedar tes,
pengukuran, maupun penyekoran
tetapi menjadi usaha untuk mendeskripsikan beberapa karakteristik
seseorang atau sesuatu. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan
bahwa penilaian adalah prosedur pengumpulan informasi tentang karakteristik
siswa pada suatu proses pembelajaran.
Penilaian ini
merupakan serangkaian kegiatan yang di dalamnya menginterpretasikan kinerja
yang ditunjukkan secara nyata dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Prinsip penilaian merupakan dasar untuk
merencanakan sistem penilaian yang dikembangkan sesuai kepentingan program
dalam kelas, kursus atau sekolah. Setiap prinsip tersebut dapat dideskripsikan
dengan banyak kata kunci. Oleh
karena itu, dibutuhkan penilaian yang efektif dan terorganisir dalam tiga ranah
pendidikan yakni afektif, psikomotorik, dan kognitif yang ketiga ranah tersebut
dapat diukur dalam penilaian autentik.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah
pada makalah ini sebagai berikut:
1.
Bagaimana konsep dasar penilaian autentik?
2.
Bagaimana deskripsi item penilaian autentik?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Konsep Dasar Penilaian Autentik
1.
Pengertian Penilaian Autentik
Penilaian merupakan bagian terpenting dari proses
pembelajaran sebab dari prosses pembelajaran tersebut pendidik perlu mengetahui sebarapa jauh proses
pembelajaran tersebut telah mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan. Menurut Nana Sudjana bahwa penilaian mempunyai ciri-ciri
adanya objek atau program yang dinilai
dan adanya kriteria sebagai dasar untuk memandingkan antara kenyataan atau apa adanya
dengan kriteria tersebut.[2] Zainul
dan Nasution menyatakan bahwa penilaian
dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dengan menggunakan
informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang
menggunakan instrument tes
maupun non tes.[3]
Berdasarkan pengertian diatas secara garis besar dapat dikatakan bahwa penilaian adalah pemberian nilai
terhadap kualitas sesuatu. Selain dari itu, penilaian juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan,
memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif
keputusan. Dengan demikian, penilaian merupakan suatu proses
yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana
tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh peserta didik.
Penilaian autentik adalah proses
pengumpulan informasi oleh pendidik tentang perkembangan dan pencapaian
pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang
mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan
pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai.[4]
Hakikat penilaian pendidikan menurut konsep authentic assesment
ini adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran
perkembangan belajar peserta didik.
Gambaran perkembangan belajar peserta
didik perlu diketahui oleh pendidik
agar bisa memastikan bahwa peserta
didik mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang
dikumpulkan pendidik
mengindikasikan bahwa peserts didik
mengalami kemacetan dalam belajar, pendidik
segara bisa mengambil tindakan yang tepat sebab gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang
proses pembelajaran, asesmen tidak hanya dilakukan di akhir periode (semester)
pembelajaran seperti pada kegiatan penilaian
hasil belajar (seperti EBTA/Ebtanas/UAN), tetapi dilakukan bersama dan
secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Asesmen autentik memiliki relevansi kuat
terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum
2013 sebab asesmen semacam
ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik baik dalam
rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Asesmen autentik cenderung fokus pada
tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk
menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik.
Penilaian autentik sering
dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis uraian, pilihan ganda,
benar–salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat. Tentu saja, pola
penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran sebab lazim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. Asesmen
autentik dapat dibuat oleh pendidik
sendiri, secara tim atau bekerja sama
dengan peserta didik. Peserta
didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam
rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran
serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada asesmen autentik guru
menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian
keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
Asesmen autentik mencoba menggabungkan
kegiatan pendidik mengajar, kegiatan peserta didik belajar, motivasi dan
keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar sebab penilaian
itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria
kinerja. Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk
mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai
penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan
belajar peserta didik.
Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan
apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka
menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa yang telah diketahui atau belum mampu menerapkan perolehan belajar,
dan sebagainya. Atas dasar itu, pendidik
dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi
remedial yang akan dilakukan.
2.
Manfaat dan Tujuan Penilaian Autentik
Penggunaan penilaian autentik sebagai evaluasi hasil
pembelajaran peserta didik di sekolah merupakan suatu solusi yang bisa
ditawarkan untuk melihat sejauh mana pembelajaran yang dilakukan berjalan
dengan efektif. Di kedua sisi ini adalah sesuatu yang menguntungkan baik bagi peserta
didik itu sendiri maupun pendidik atau sekolah. Manfaat bagi siswa adalah dapat
mengungkapkan secara total seberapa baik pemahaman materi akademik mereka,
mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi mereka, seperti mengumpulkan
informasi, menggunakan sumber daya, menangani teknologi dan berfikir
sistematis, menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sendiri, dunia
mereka dan masyarakat luas, mempertajam keahlian berfikir dalam tingkatan yang
lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan, dan mengidentifikasi masalah,
menciptakan solusi dan mengikuti hubungan sebab akibat, menerima tanggung jawab
dan membuat pilihan, berhubungan dan kerja sama dengan orang lain dalam membuat
tugas, dan belajar mengevaluasi tingkat prestasi sendiri
Sedangkan bagi guru, penilaian autentik bisa menjadi
tolak ukur yang komprehensif mengenai kemampuan peserta didik dan seberapa
efektif metode yang diberikan kepada peserta didik bisa dijalankan. Oleh karena
itulah, penerapan authentic assessment sebagai alat evaluasi hasil belajar di
sekolah-sekolah ataupun level universitas penting untuk diperhatikan agar peerta
didik tidak hanya sekedar menjadi pembelajar saja, namun pada akhirnya pencapaian
prestasi diikuti dengan kemampuan mengaplikasikan kemampuan yang dimilikinya ke
dalam dunia nyata. Penilaian autentik bertujuan mengevaluasi kemampuan peserta
didik dalam konteks dunia nyata. Dengan kata lain, peserta didik belajar
bagaimana mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya ke dalam tugas-tugas
yang autentik, melalui penilaian autentik ini, diharapkan berbagai informasi
yang absah/benar dan akurat dapat terjaring berkaitan dengan apa yang
benar-benar diketahui dan dapat dilakukan oleh peserta didik atau tentang
kualitas program pendidikan .
3.
Karakteritik Penilaian Autentik
Penilaian autentik pada Kurikulum 2013
sebagaimana diketahui bahwa penilaian pada kurikulum KTSP berbeda dengan
kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013, penilaian dilakukan secara
komperehensif untuk menilai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output)
pembelajaran meliputi ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan.[5]
Penilaian autentik menilai
kesiapan peserta didik serta proses dan hasil belajar secara utuh. Dalam
penilaian autentik setiap
pendidik mengetahui perkembangan peserta didik dalam setiap proses kegiatan belajar mengajar di
kelas. Setiap komponen yang ada di kelas termasuk antar peserta didik ikut terlibat dalam
penilaian autentik ini. Pada kurikulum sebelumnya penilaian
menggunakan skala 0 hingga 100, sedangkan aspek afektif menggunakan huruf
A, B, C, dan D. Penilaian autentik dilakukan dengan cara peserta didik diminta menampilkan
sejumlah tugas dalam dunia sesungguhnya yang memperlihatkan aplikasi pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang
esensial. Adapun ciri-ciri penilaian autentik adalah sebagai berikut.[6]
a.
Penilaian harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau
produk. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus
mengukur aspek kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh
peserta didik. Penilaian kinerja atau produk dipastikan bahwa kinerja atau
produk tersebut merupakan cerminan dari kompetensi peserta didik secara nyata
dan objektif.
b.
Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran. Artinya, dalam
melakukan penilaian terhadap peserta didik, guru dituntut untuk melakukan
penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi
peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
c.
Penilaian menggunakan berbagai cara dan sumber. Dalam melakukan penilaian
terhadap peserta didik harus menggunakan beberapa teknik penilaian (disesuaikan
dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakan berbagai sumber atau data yang bisa
digunakan sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi peserta
didik.
d.
Penilaian bentuk tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya,
dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi tertentu
harus secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata.
Informasiinformasi lain yang mendukung pencapaian kompetensi peserta didik
dapat dijadikan bahan dalam melakukan penilaian.
e.
Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan
bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus
dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
f.
Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta
didik, bukan keluasannya (kuantitas) Artinya, dalam melakukan penilaian peserta
didik terhadap pencapaian kompetensi harus mengukur kedalaman terhadap
pengusaan kompetensi tertentu secara objektif
Lebih
lanjut dijelaskan, karakteristik penilaian autentik adalah: (1) dilaksanakan
selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, (2) bisa digunakan untuk
formatif maupun sumatif, (3) yang diukur adalah pengetahuan dan keterampilan,
(4) berkesinambungan, (5) terintegrasi, dan (6) dapat digunakan sebagai feed
back. Jenis-jenis penilaian otentik meliputi penilaian kinerja, penilaian diri,
esai, penilaian proyek, penilaian produk, dan portofolio. Kegiatan-kegiatan
penilaian autentik
antara lain observasi (pengamatan), presentasi, diskusi, wawancara, dan
lain-lain. Kegiatan penilaian yang tidak autentik adalah tes objektif seperti pilihan ganda, menghapal
materi, dan kegiatan-kegiatan lain yang hanya menuntut siswa secara mekanis dan
tidak langsung terkait dengan kehidupan. Adapun karakteristik yang terdapat pada penilaian
autentik (authentic assessment) menurut Kunandar adalah:[7]
a. Bisa
digunakan untuk formatif maupun sumatif. Artinya, penilaian autentik dapat
dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi terhadap satu atau beberapa
kompetensi dasar (formatif) maupun pencapaian kompetensi terhadap standar
kompetensi atau kompetensi inti dalam satu semester.
b.
Mengukur keterampilan dan perfomansi, bukan mengingat fakta. Artinya, penilaian
autentik itu ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi yang menekankan
aspek keterampilan (skill) dan kinerja (performance), bukan hanya mengukur
kompetensi yang sifatnya mengingat fakta (hafalan dan ingatan).
c.
Berkesinambungan dan terintegrasi. Artinya, dalam melakukan penilaian autentik
harus secara berkesinambungan (terus menerus) dan merupakan satu kesatuan
secara utuh sebagai alat untuk mengumpulkan informasi terhadap pencapaian
kompetensi peserta didik.
d.
Digunakan sebagai feed back. Artinya, penilaian autentik yang dilakukan oleh
guru oleh guru dapat digunakan sebagai umpan balik terhadap pencapaian
kompetensi peserta didik secara komprehensif.
Perencanaan yang baik juga harus
diterapkan dalam kegiatan penilaian yang menjadi bagian dari kegiatan
pembelajaran. Langkah
yang perlu ditempuh dalam pengembangan penilaian autentik yaitu (1) penentuan standar,
(2) penentuan tugas autentik,
(3) pembuatan kriteria, dan (4) pembuatan rubrik.
B.
Deskripsi Item Penilaian Autentik
1.
Penilaian Kinerja/Unjuk Kerja
Asesmen kinerja adalah suatu prosedur
yang menggunakan berbagai bentuk tugas-tugas untuk memperoleh informasi tentang
apa dan sejauhmana yang telah dilakukan dalam suatu program.[8] Pemantauan
didasarkan pada kinerja (performance)
yang ditunjukkan dalam menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan yang
diberikan. Hasil yang diperoleh merupakan suatu hasil dari unjuk kerja
tersebut. Asesmen kinerja adalah
penelusuran produk dalam proses. Artinya, hasil-hasil kerja yang ditunjukkan
dalam proses pelaksanaan program itu digunakan sebagai basis untuk dilakukan
suatu pemantauan mengenai perkembangan dari satu pencapaian program tersebut. Terdapat
tiga komponen utama dalam asesmen kinerja, yaitu tugas kinerja (performance task), rubrik performansi (performance rubrics), dan cara penilaian
(scoring guide).[9]
Tugas kinerja adalah suatu tugas yang berisi topik, standar tugas, deskripsi
tugas, dan kondisi penyelesaian tugas. Rubrik performansi merupakan suatu
rubrik yang berisi komponen-komponen suatu performansi ideal, dan deskriptor
dari setiap komponen tersebut. Cara penilaian kinerja ada tiga, yaitu (1) holistic
scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan impresi penilai secara umum
terhadap kualitas performansi; (2) analytic scoring, yaitu pemberian
skor terhadap aspek-aspek yang berkontribusi terhadap suatu performansi; dan
(3) primary traits scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan beberapa
unsur dominan dari suatu performansi.
2.
Penilaian Proyek
Asesmen proyek (project
assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus
diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian
tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan
penyajian data.[10]
Dengan demikian, penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman,
mengaplikasikan, penyelidikan, dan lain-lain. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran, peserta didik memperoleh
kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan, dan pengetahuannya.
Karena itu, pada setiap penilaian proyek, setidaknya ada tiga hal yang
memerlukan perhatian khusus dari guru. (1) Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan
data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh,
dan menulis laporan. (2) Kesesuaian atau
relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik. (3) Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau
dihasilkan oleh peserta didik.
Penilaian proyek berfokus pada
perencanaan, pengerjaan, dan produk proyek. Dalam kaitan ini serial kegiatan
yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen
penilaian, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian
proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi.
Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus.
Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan
bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. Penilaian produk
dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk, seperti
makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, patung, dan lain-lain),
barang-barang terbuat dari kayu, kertas, kulit, keramik, karet, plastik, dan
karya logam. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang
harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Penilaian secara holistik
merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang
dihasilkan.
3.
Penilaian Portofolio
Portofolio adalah sekumpulan artefak (bukti
karya/kegiatan/data) sebagai bukti (evidence)
yang menunjukkan perkembangan dan pencapaian suatu program. Penggunaan
portofolio dalam kegiatan evaluasi sebenarnya sudah lama dilakukan, terutama
dalam pendidikan bahasa.[11]
Belakangan ini, dengan adanya orientasi kurikulum yang berbasis kompetensi,
asesmen portofolio menjadi primadona dalam asesmen berbasis kelas. Perlu
dipahami bahwa sebuah portofolio (biasanya ditaruh dalam folder) bukan
semata-mata kumpulan bukti yang tidak bermakna. Portofolio harus disusun
berdasarkan tujuannya. Wyatt dan Looper
menyebutkan, berdasarkan tujuannya sebuah portofolio dapat berupa developmental portfolio, bestwork portfolio, dan showcase portfolio.[12]
Developmental portfolio disusun
demikian rupa sesuai dengan langkah-langkah kronologis perkembangan yang
terjadi. Oleh karena itu, pencatatan mengenai kapan suatu artefak dihasilkan
menjadi sangat penting, sehingga perkembangan program tersebut dapat dilihat
dengan jelas. Bestwork portofolio
adalah portofolio karya terbaik. Karya terbaik diseleksi sendiri oleh pemilik
portofolio dan diberikan alasannya. Karya terbaik dapat lebih dari satu. Showcase portfolio adalah portofolio
yang lebih digunakan untuk tujuan pajangan, sebagai hasil dari suatu kinerja
tertentu. Bagaimanakah asesmen portofolio
membantu memantau pencapaian target kompetensi? Asesmen portofolio adalah suatu
pendekatan asesmen yang komprehensif karena: (1) dapat mencakup ranah kognitif,
afektif, dan psikomotor secara bersama-sama, (2) berorientasi baik pada proses
maupun produk belajar, dan (3) dapat memfasilitasi kepentingan dan kemajuan
peserta didik secara individual. Asesmen portofolio mengandung tiga elemen
pokok yaitu: (1) sampel karya peserta didik, (2) evaluasi diri, dan (3)
kriteria penilaian yang jelas dan terbuka.
4.
Penilaian Diri/Evaluasi Diri
Evaluasi diri adalah
suatu cara untuk melihat kedalam diri sendiri. Melalui evaluasi diri peserta
didik dapat melihat kelebihan maupun kekurangannya, untuk selanjutnya
kekurangan ini menjadi tujuan perbaikan (improvement goal). Dengan
demikian, peserta didik lebih bertanggungjawab terhadap proses dan pencapaian
tujuan belajarnya (Rolheiser
dan Ross, Dalam Dantes, 2008). Rolheiser
dan Ross (Dalam Dantes, 2008) mengajukan suatu model teoretik untuk menunjukkan
kontribusi evaluasi diri terhadap pencapaian tujuan. Model tersebut menekankan
bahwa, ketika mengevaluasi sendiri performansinya, peserta didik terdorong
untuk menetapkan tujuan yang lebih tinggi (goals).
Untuk itu, peserta didik harus melakukan usaha yang lebih keras (effort). Kombinasi dari goals dan effort ini menentukan prestasi (achievement);
selanjutnya prestasi ini berakibat pada penilaian terhadap diri (self-judgment) melalui kontemplasi
seperti pertanyaan, ‘Apakah tujuanku telah tercapai’? Akibatnya timbul reaksi (self-reaction) seperti ‘Apa yang aku
rasakan dari prestasi ini? Evaluasi diri adalah suatu unsur metakognisi yang
sangat berperan dalam proses belajar. Oleh karena itu, agar penilaian dapat
berjalan dengan efektif, ada empat langkah dalam berlatih melakukan penilaian
diri, yaitu:[13]
(1) libatkan semua komponen dalam menentukan kriteria penilaian, (2) pastikan
semua peserta didik tahu bagaimana caranya menggunakan kriteria tersebut untuk
menilai kinerjanya, (3) berikan umpan balik pada mereka berdasarkan hasil
evaluasi dirinya, dan (4) arahkan mereka untuk mengembangkan sendiri tujuan dan
rencana kerja berikutnya. Untuk langkah pertama, yaitu menentukan kriteria
penilaian. Guru mengajak peserta didik bersama-sama menetapkan kriteria
penilaian. Pertemuan dalam bentuk sosialisasi tujuan pembelajaran dan curah
pendapat sangat tepat dilakukan. Kriteria ini dilengkapi dengan bagaimana cara
mencapainya. Dengan kata lain, kriteria penilaian adalah produknya, sedangkan
proses mencapai kriteria tersebut dipantau dengan menggunakan ceklis evaluasi
diri. Cara mengembangkan kriteria penilaian sama dengan mengembangkan rubrik
penilaian dalam asesmen kinerja. Ceklis evaluasi diri dikembangkan berdasarkan
hakikat tujuan tersebut dan bagaimana mencapainya. Jurnal merupakan
wadah yang memuat hasil refleksi berupa sebuah dokumen yang secara terus
menerus bertambah dan berkembang, dan ditulis oleh peserta
didik untuk mencatat setiap kemajuan. Jurnal juga merupakan
catatan pendidik selama proses pembelajaran yang berisi informasi hasil
pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang terkait dengan
kinerja ataupun sikap dan perilaku peserta didik yang dipaparkan secara
deskriptif. Jurnaljugamerupakan laporan yang ditulis sendiri oleh peserta
didik, dimanapeserta didik menceritakan hal-hal mengenai subjek yang telah
dipelajarinya.
Jurnal digunakan untuk kelengkapan
assessment, yaitu untuk memperoleh beberapa pemecahan masalah yang berasal
dari buku pelajaran yang dipelajari peserta didik atau pekerjaan rumah yang
telah dibuat oleh peserta didik, untuk memperoleh tanggapan peserta didik
terhadap pertanyaan dari pendidik atau peserta didik lainnya, untuk
mengidentifikasi masalah-masalah dan melaporkan bagaimana cara memecahkan
masalah tersebut, untuk mengklarifikasikan sesuatu yang baru dan menyempurnakan
suatu teori dari apa yang telah dipelajari di sekolah, untuk
menghubungkan ide-ide yang telah dikemukakan dari suatu permasalahan, dari
pemikiran tentang proyek yang berpotensi, tulisan-tulisan, dan
presentasi-presentasi, dan untuk mengikuti kemajuan dari sebuah
eksperimen, situasi di sekolah terhdap peserta didiknya terjadi selanjutnya.
Kelebihan penilaian Jurnal antara
lain dapat membantu mengidentifikasi apa yang telah dipelajari dan meningkatkan
bagian yang masih kurang, membantu melihat pola belajar dan gaya belajar,
memberikan gambaran mengenai kemajuan yang didapat masalah
yang dihadapi dan bagaimana menyelesaikannya, memiliki catatan
tentang segala aktivitas yang dilakukan, membantu pengorganisasian belajar,
melatih kemampuan menulis pertanyaan bagi pendidik, dan melatih kemampuan
mengkomunikasikan respon dengan cara yang dirasa nyaman. Teknik
penilaian Jurnal dilakukan dengan menilai hasil kumpulan catatan atau
keberhasilan dalam suatu kegiatan dengan memperhatikan beberapa aspek,
yaitu: catatan dasar atau kelengkapan catatan, ketepatan waktu,
pengembangan indicator yang tinggi, sedang dan rendah, penilaian jurnal
pada criteria lainnya, dan menambahkan penilaian untuk criteria bersama
lainnya untuk menentukan nilai total.
5.
Penilaian Tertulis
(Tes) esai menghendaki peserta didik untuk
mengorganisasikan, merumuskan, dan mengemukakan sendiri jawabannya. Ini berarti
peserta didik tidak memilih jawaban, akan tetapi memberikan jawaban dengan
kata-katanya sendiri secara bebas. Tes esai dapat digolongkan menjadi dua
bentuk, yaitu tes esai jawaban terbuka (extended-response) dan jawaban
terbatas (restricted-response) dan hal ini tergantung pada kebebasan
yang diberikan kepada peserta didik untuk mengorganisasikan atau menyusun
ide-idenya dan menuliskan jawabannya. Pada tes esai bentuk jawaban terbuka atau
jawaban luas, peserta didik mendemonstrasikan kecakapannya untuk:[14]
(1) menyebutkan pengetahuan faktual, (2) menilai pengetahuan faktualnya, (3)
menyusun ide-idenya, dan (4) mengemukakan idenya secara logis dan koheren.
Sedangkan pada tes esai jawaban terbatas atau terstruktur, peserta didik lebih
dibatasi pada bentuk dan ruang lingkup jawabannya, karena secara khusus
dinyatakan konteks jawaban yang harus diberikan oleh peserta didik. Esai
terbuka/tak terstruktur merupakan bentuk asesmen otentik. Tes esai memiliki
potensi untuk mengukur hasil belajar pada tingkatan yang lebih tinggi atau
kompleks. Butir tes esai memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
menyusun, menganalisis, dan mensintesiskan ide-ide, dan peserta didik harus
mengembangkan sendiri buah pikirannya serta menuliskannya dalam bentuk yang
tersusun atau terorganisasi. Kelemahan esai adalah berkaitan dengan penskoran.
Ketidakkonsistenan pembaca merupakan penyebab kurang objektifnya dalam
memberikan skor dan terbatasnya reliabilitas tes.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka kesimpulan makalah
ini adalah sebagai berikut:
1.
Penilaian autentik merupakan proses pengumpulan informasi
oleh pendidik tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan
oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan,
membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah
benar-benar dikuasai dan dicapai. Penggunaan penilaian autentik sebagai
evaluasi hasil pembelajaran peserta didik di sekolah merupakan suatu solusi
yang bisa ditawarkan untuk melihat sejauh mana pembelajaran yang dilakukan
berjalan dengan efektif. Penerapan authentic assessment sebagai alat evaluasi
hasil belajar di sekolah-sekolah ataupun level universitas penting untuk
diperhatikan agar peerta didik tidak hanya sekedar menjadi pembelajar saja,
namun pada akhirnya pencapaian prestasi diikuti dengan kemampuan
mengaplikasikan kemampuan yang dimilikinya ke dalam dunia nyata. Penilaian
autentik bertujuan mengevaluasi kemampuan peserta didik dalam konteks dunia
nyata.
2.
Mengukur keterampilan dan perfomansi, bukan mengingat fakta.
Artinya, penilaian autentik itu ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi
yang menekankan aspek keterampilan (skill) dan kinerja (performance), bukan
hanya mengukur kompetensi yang sifatnya mengingat fakta (hafalan dan ingatan) adalah salah
satu karakteristik penilaian autentik.
3.
Terdapat tiga
komponen utama dalam asesmen kinerja, yaitu tugas kinerja (performance task), rubrik performansi (performance rubrics), dan cara penilaian (scoring guide). Penilaian
proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi.
Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus.
Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan
bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. Penilaian produk
dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk,
seperti makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, patung, dan
lain-lain), barang-barang terbuat dari kayu, kertas, kulit, keramik, karet,
plastik, dan karya logam.
B.
Saran
Dalam pembuatan
makalah ini penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah
ini, maka dari itu penulis berharap kritik yang membangun untuk penyempurnaan
penulisan di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Dantes, Nyoman. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan
Produk Dalam
Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House
Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha, h. 63 Zainul & Nasution. (2001). Penilaian
Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti. 2008.
Kunandar. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil
Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013. Jakarta: Rajawali Press. 2013
Muchtar,
Hartati. Penerapan Penilaian Autentik dalam Upaya Peningkatan
Mutu Pendidikan. Jakarta: Jurnal Pendidikan Penabur, 2010.
Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2009.
Sudrajat,Ajat..PenilaianPortofolio.http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/08/07/penilaian-portofolio/. 2013
Tola,
Burhanuddin. Penilaian Diri (Self Evaluation). Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan
Balitbang Kemendiknas. 2010.
[2] Nyoman Dantes, Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House
Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). (Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha, 2008), h. 63
[5] Nurgiyantoro, Penilaian Otentik, (Jurnal Cakrawala Pendidikan. November
2008, Th. XXVII, No. 3).
[6] Sunarmi dan Triastono, Evaluasi proses dan Hasil Belajar. Malang:
Dirjen DIKTI dan UM (Program SEMI-QUE IV, 2003), h. 97.
[7] Kunandar, Penilaian Autentik (Penilaian
Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013, (Jakarta: Rajawali Press,
2013), h. 87
[8] Hartati Muchtar, Penerapan Penilaian Autentik
dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan. (Jakarta: Jurnal Pendidikan Penabur,
2010), h. 75
[10] Ibid
[11]AjatSudrajatPenilaianPortofolio.http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/08/07/penilaian-portofolio/,
2013.
[12]Ibid
[14] Burhanuddin Tola, Penilaian Diri (Self Evaluation), (Jakarta: Pusat Penilaian
Pendidikan Balitbang Kemendiknas, 2010), h. 69
Tidak ada komentar:
Posting Komentar