Senin, 01 Januari 2018

Authentic Assessment



Tugas: Makalah

PENILAIAN AUTENTIK

                                                                                            







Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Evaluasi Progran dan Pembelajaran PAI
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Jafar Ahiri, M.Pd.

OLEH

WA ODE SYAMSINAR NADIA
                                              NIM: 1604020202023




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
KENDARI
2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa tercurah kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, nikmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Penilaian Autentik” sesuai dengan waktu yang diharapkan. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Program dan Pembelajaran PAI..
Makalah ini membahas tentang penilaian autentik yang mencakup portofolio, unjuk kerja/kinerja, penilaian proyek, penilaian diri, penilaian antar teman.  Selain itu, untuk memperdalam pengkajian penilaian autentik maka penulis memberikan penjelasan beberapa pendapat para tokoh.  Informasi yang dihasilkan dalam makalah ini menjadi referansi penting dalam memahami penilaian secara parsial dan komprehensif.
Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak merujuk referensi dari buku Evaluasi Pendidikan. Referensi lain diperoleh dari informasi yang berkembang dari diskusi para pakar tentang penilaian autentik di media cetak dan elektronik.  Selain itu, untuk memperkaya khasanah penilaian, penulis juga banyak menerima masukan dari rekan-rekan mahasiswa S2 Pendidikan Agama Islam IAIN Kendari. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Selain itu, penulis berharap makalah ini dapat memberikan informasi bagi pembaca sehingga bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua terutama tentang Penilaian Autentik
Kendari, 17 April 2017
Penulis,
Wa Ode Syamsinar Nadia


DAFTAR ISI
                                                                                                                                   
Halaman Sampul ........................................................................................           i
Kata Pengantar...........................................................................................          ii
Daftar Isi ....................................................................................................          iii
BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................           1
A.      Latar Belakang................................................................................          1
B.      Rumusan Masalah ...........................................................................          3
BAB II. PEMBAHASAN.........................................................................         
A.  Konsep Dasar Penilaian Autentik...................................................          4
B.  Rubrik Penilaian Autentik...............................................................          9
BAB III. PENUTUP..................................................................................              
A.      Kesimpulan  ...................................................................................           16
B.      Saran  .............................................................................................           17
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….        18





















BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejak sepuluh tahun terakhir terjadi peningkatan yang sangat cepat dalam penentuan penilaian pendidikan. Bentuk penilaian yang biasa digunakan adalah tes pilihan ganda. Ketika penilaian jenis ini dirasa tidak cukup merepresentasikan kemampuan nyata peserta didik, pendidik mulai mencari alternatif lain. Selanjutnya, pendidik menitikberatkan penilaian aktivitas dalam kelas. Penilaian alternatif terdiri dari sejumlah metode untuk menemukan apa yang perta didik ketahui atau dapat lakukan yang menunjukkan perkembangan dan informasi bahan pembelajaran, dan salah satu bentuk penilaian tradisional adalah tes pilihan ganda. Penilaian alternatif didefinisikan merujuk pada penilaian autentik karena penilaian ini mencerminkan pada aktivitas kelas dan keadaan yang sebenarnya. Pelaksanaan penilaian autentik didasari oleh dua hal yakni penilaian tradisional tidak dapat sepenuhnya menunjukkan kemampuan siswa dan guru mengalami kesulitan menggunakan informasi yang diperoleh untuk perencanaan bahan-bahan pembelajaran. Tes pilihan ganda tidak akurat/representatif untuk mengetahui kemampuan berpikir siswa yang berhubungan dengan kurikulum. Tipe tes ini tidak dapat menggambarkan kemajuan pembelajaran dan bagaimana siswa belajar. Selain itu, hasil penilaian dengan tes pilihan ganda sering kali tidak sesuai dengan yang ditunjukkan peserta didik di dalam kelas. Padahal, guru memerlukan informasi tersebut sebagai ukuran apakah mereka dapat menyelesaikan tugas pembelajaran dengan baik/tidak. Informasi ini digunakan untuk perencanaan instruksional dan sebagai bahan umpan balik untuk memonitor kemajuan peserta didik.
Perkembangan terakhir saat ini yang menjadi perhatian pendidik, sekolah, dan pemerhati pendidikan adalah bagaimana bentuk penilaian dapat diaplikasikan untuk menilai pengetahuan dan kemampuan siswa yang diperoleh berfungsi efektif untuk masa depan dan masyarakat kompleks (hal ini tidak ditunjukkan oleh tes pilihan ganda). Sekolah dan pemerhati pendidikan melihat bahwa sekolah sukses harus mampu memproduksi generasi baru dengan kemampuan yang dibutuhkan 10 tahun yang akan datang. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu bentuk penilaian, perkembangan pengukuran baru yang lebih baik. Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang berkesinambungan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Sebagai komponen yang tidak terpisahkan dalam sebuah pembelajaran, penilaian digunakan guru untuk memperoleh informasi tentang pembelajaran yang dilakukan. Dalam dunia pendidikan, ada tiga istilah yang digunakan bergantian pemakaiaannya atau bahkan disamakan pengertiannya tetapi secara esensi berbeda. Ketiga istilah tersebut adalah penilaian (evaluasi, evaluation), pengukuran (measurement), dan tes (test). Penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui (menguji) apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan. Istilah yang kedua, pengukuran merupakan bagian dari alat penilaian dan selalu berhubungan dengan data-data kuantitatif, misalnya skor peserta didik. Istilah yang terakhir, yaitu tes merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi (kemampuan) peserta didik. Tes ini biasanya lebih popular dengan kata ujian atau ulangan. Tes adalah sebuah sarana yang digunakan untuk mengetahui contoh perilaku individual yang diamati, dievaluasi, dan diberi skor dengan standar prosedur tertentu.[1]
Tes ini bertujuan untuk mengetahui informasi secara lebih spesifik tentang pencapaian materi yang telah diajarkan. Dengan adanya tes, pendidik akan mengetahui secara lebih nyata hasil dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pengukuran adalah seperangkat aturan untuk menilai tingkat pencapaian yang ditunjukkan objek, ciri-ciri, atribut, dan sikap siswa. Penilaian adalah sebuah prosedur sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk menyimpulkan karakteristik peserta didik atau objek untuk mencapai tujuan pendidikan. Penilaian harus mampu memberikan pemahaman secara spesifik terhadap karakteristik peserta didik yang dilakukan secara terintegrasi. Jadi, dapat dikatan bahwa tes merupakan salah satu metode pengumpulan informasi dan merupakan salah satu alat dalam penilaian. Oleh karena itu, penilaian memiliki cakupan yang lebih luas daripada tes. Penilaian merupakan proses pengumpulan hasil dari pencapaian pembelajaran siswa. Hal ini tidak hanya sekedar tes, pengukuran, maupun penyekoran tetapi menjadi usaha untuk mendeskripsikan beberapa karakteristik seseorang atau sesuatu. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah prosedur pengumpulan informasi tentang karakteristik siswa pada suatu proses pembelajaran.
Penilaian ini merupakan serangkaian kegiatan yang di dalamnya menginterpretasikan kinerja yang ditunjukkan secara nyata dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Prinsip penilaian merupakan dasar untuk merencanakan sistem penilaian yang dikembangkan sesuai kepentingan program dalam kelas, kursus atau sekolah. Setiap prinsip tersebut dapat dideskripsikan dengan banyak kata kunci. Oleh karena itu, dibutuhkan penilaian yang efektif dan terorganisir dalam tiga ranah pendidikan yakni afektif, psikomotorik, dan kognitif yang ketiga ranah tersebut dapat diukur dalam penilaian autentik.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut:
1.    Bagaimana konsep dasar penilaian autentik?
2.    Bagaimana deskripsi item penilaian autentik?















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar Penilaian Autentik
1.      Pengertian Penilaian Autentik
Penilaian merupakan bagian terpenting dari proses pembelajaran sebab dari prosses pembelajaran tersebut pendidik  perlu mengetahui sebarapa jauh proses pembelajaran tersebut telah mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Menurut Nana Sudjana bahwa penilaian mempunyai ciri-ciri adanya  objek atau program yang dinilai dan adanya kriteria sebagai dasar untuk memandingkan antara kenyataan atau apa adanya dengan kriteria tersebut.[2]  Zainul dan Nasution menyatakan bahwa penilaian dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrument tes maupun non tes.[3] Berdasarkan pengertian diatas secara garis besar dapat dikatakan bahwa penilaian adalah pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu. Selain dari itu, penilaian juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Dengan demikian, penilaian merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh peserta didik.
Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh pendidik tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai.[4] Hakikat penilaian pendidikan menurut konsep authentic assesment  ini adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Gambaran perkembangan belajar peserta didik perlu diketahui oleh pendidik agar bisa memastikan bahwa peserta didik mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan pendidik mengindikasikan bahwa peserts didik mengalami kemacetan dalam belajar, pendidik segara bisa mengambil tindakan yang tepat sebab gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, asesmen tidak hanya dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran seperti pada kegiatan penilaian hasil belajar (seperti EBTA/Ebtanas/UAN), tetapi dilakukan bersama dan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 sebab asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik.
Penilaian autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis uraian, pilihan ganda,  benar–salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat. Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran sebab lazim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. Asesmen autentik dapat dibuat oleh pendidik sendiri, secara tim atau  bekerja sama dengan  peserta didik. Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan pendidik mengajar, kegiatan peserta didik belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar sebab penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan belajar peserta didik. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa yang telah diketahui atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, pendidik dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi remedial yang akan dilakukan.
2.      Manfaat dan Tujuan Penilaian Autentik
Penggunaan penilaian autentik sebagai evaluasi hasil pembelajaran peserta didik di sekolah merupakan suatu solusi yang bisa ditawarkan untuk melihat sejauh mana pembelajaran yang dilakukan berjalan dengan efektif. Di kedua sisi ini adalah sesuatu yang menguntungkan baik bagi peserta didik itu sendiri maupun pendidik atau sekolah. Manfaat bagi siswa adalah dapat mengungkapkan secara total seberapa baik pemahaman materi akademik mereka, mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi mereka, seperti mengumpulkan informasi, menggunakan sumber daya, menangani teknologi dan berfikir sistematis, menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sendiri, dunia mereka dan masyarakat luas, mempertajam keahlian berfikir dalam tingkatan yang lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan, dan mengidentifikasi masalah, menciptakan solusi dan mengikuti hubungan sebab akibat, menerima tanggung jawab dan membuat pilihan, berhubungan dan kerja sama dengan orang lain dalam membuat tugas, dan belajar mengevaluasi tingkat prestasi sendiri
Sedangkan bagi guru, penilaian autentik bisa menjadi tolak ukur yang komprehensif mengenai kemampuan peserta didik dan seberapa efektif metode yang diberikan kepada peserta didik bisa dijalankan. Oleh karena itulah, penerapan authentic assessment sebagai alat evaluasi hasil belajar di sekolah-sekolah ataupun level universitas penting untuk diperhatikan agar peerta didik tidak hanya sekedar menjadi pembelajar saja, namun pada akhirnya pencapaian prestasi diikuti dengan kemampuan mengaplikasikan kemampuan yang dimilikinya ke dalam dunia nyata. Penilaian autentik bertujuan mengevaluasi kemampuan peserta didik dalam konteks dunia nyata. Dengan kata lain, peserta didik belajar bagaimana mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya ke dalam tugas-tugas yang autentik, melalui penilaian autentik ini, diharapkan berbagai informasi yang absah/benar dan akurat dapat terjaring berkaitan dengan apa yang benar-benar diketahui dan dapat dilakukan oleh peserta didik atau tentang kualitas program pendidikan .
3.      Karakteritik Penilaian Autentik
Penilaian autentik pada Kurikulum 2013 sebagaimana diketahui bahwa penilaian pada kurikulum KTSP berbeda dengan kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013, penilaian dilakukan secara komperehensif untuk menilai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output)  pembelajaran meliputi ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan.[5] Penilaian autentik menilai kesiapan peserta didik serta proses dan hasil  belajar secara utuh. Dalam penilaian autentik setiap pendidik mengetahui  perkembangan peserta didik dalam setiap proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Setiap komponen yang ada di kelas termasuk antar peserta didik ikut terlibat dalam  penilaian autentik ini. Pada kurikulum sebelumnya penilaian menggunakan skala 0 hingga 100, sedangkan aspek afektif menggunakan huruf  A, B, C, dan D. Penilaian autentik dilakukan dengan cara peserta didik diminta menampilkan sejumlah tugas dalam dunia sesungguhnya yang memperlihatkan aplikasi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang esensial. Adapun ciri-ciri penilaian autentik adalah sebagai berikut.[6]
a. Penilaian harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus mengukur aspek kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik. Penilaian kinerja atau produk dipastikan bahwa kinerja atau produk tersebut merupakan cerminan dari kompetensi peserta didik secara nyata dan objektif.
b. Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik, guru dituntut untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
c. Penilaian menggunakan berbagai cara dan sumber. Dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus menggunakan beberapa teknik penilaian (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakan berbagai sumber atau data yang bisa digunakan sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi peserta didik.
d. Penilaian bentuk tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi tertentu harus secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata. Informasiinformasi lain yang mendukung pencapaian kompetensi peserta didik dapat dijadikan bahan dalam melakukan penilaian.
e. Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
f.  Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta didik, bukan keluasannya (kuantitas) Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi harus mengukur kedalaman terhadap pengusaan kompetensi tertentu secara objektif
Lebih lanjut dijelaskan, karakteristik penilaian autentik adalah: (1) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, (2) bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, (3) yang diukur adalah pengetahuan dan keterampilan, (4) berkesinambungan, (5) terintegrasi, dan (6) dapat digunakan sebagai feed back. Jenis-jenis penilaian otentik meliputi penilaian kinerja, penilaian diri, esai, penilaian proyek, penilaian produk, dan portofolio. Kegiatan-kegiatan penilaian autentik antara lain observasi (pengamatan), presentasi, diskusi, wawancara, dan lain-lain. Kegiatan penilaian yang tidak autentik adalah tes objektif seperti pilihan ganda, menghapal materi, dan kegiatan-kegiatan lain yang hanya menuntut siswa secara mekanis dan tidak langsung terkait dengan kehidupan. Adapun karakteristik yang terdapat pada  penilaian autentik (authentic assessment) menurut Kunandar adalah:[7]
a. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif. Artinya, penilaian autentik dapat dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi terhadap satu atau beberapa kompetensi dasar (formatif) maupun pencapaian kompetensi terhadap standar kompetensi atau kompetensi inti dalam satu semester.
b. Mengukur keterampilan dan perfomansi, bukan mengingat fakta. Artinya, penilaian autentik itu ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi yang menekankan aspek keterampilan (skill) dan kinerja (performance), bukan hanya mengukur kompetensi yang sifatnya mengingat fakta (hafalan dan ingatan).
c. Berkesinambungan dan terintegrasi. Artinya, dalam melakukan penilaian autentik harus secara berkesinambungan (terus menerus) dan merupakan satu kesatuan secara utuh sebagai alat untuk mengumpulkan informasi terhadap pencapaian kompetensi peserta didik.
d. Digunakan sebagai feed back. Artinya, penilaian autentik yang dilakukan oleh guru oleh guru dapat digunakan sebagai umpan balik terhadap pencapaian kompetensi peserta didik secara komprehensif.
Perencanaan yang baik juga harus diterapkan dalam kegiatan penilaian yang menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran. Langkah yang perlu ditempuh dalam pengembangan penilaian autentik yaitu (1) penentuan standar, (2) penentuan tugas autentik, (3) pembuatan kriteria, dan (4) pembuatan rubrik.
B.     Deskripsi Item Penilaian Autentik
1.      Penilaian Kinerja/Unjuk Kerja
Asesmen kinerja adalah suatu prosedur yang menggunakan berbagai bentuk tugas-tugas untuk memperoleh informasi tentang apa dan sejauhmana yang telah dilakukan dalam suatu program.[8] Pemantauan didasarkan pada kinerja (performance) yang ditunjukkan dalam menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan yang diberikan. Hasil yang diperoleh merupakan suatu hasil dari unjuk kerja tersebut. Asesmen kinerja adalah penelusuran produk dalam proses. Artinya, hasil-hasil kerja yang ditunjukkan dalam proses pelaksanaan program itu digunakan sebagai basis untuk dilakukan suatu pemantauan mengenai perkembangan dari satu pencapaian program tersebut. Terdapat tiga komponen utama dalam asesmen kinerja, yaitu tugas kinerja (performance task), rubrik performansi (performance rubrics), dan cara penilaian (scoring guide).[9] Tugas kinerja adalah suatu tugas yang berisi topik, standar tugas, deskripsi tugas, dan kondisi penyelesaian tugas. Rubrik performansi merupakan suatu rubrik yang berisi komponen-komponen suatu performansi ideal, dan deskriptor dari setiap komponen tersebut. Cara penilaian kinerja ada tiga, yaitu (1) holistic scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan impresi penilai secara umum terhadap kualitas performansi; (2) analytic scoring, yaitu pemberian skor terhadap aspek-aspek yang berkontribusi terhadap suatu performansi; dan (3) primary traits scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan beberapa unsur dominan dari suatu performansi.
2.      Penilaian Proyek
Asesmen proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.[10] Dengan demikian, penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman, mengaplikasikan, penyelidikan, dan lain-lain. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran, peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Karena itu, pada setiap penilaian proyek, setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru. (1) Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan. (2) Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik. (3) Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.
Penilaian proyek berfokus pada perencanaan, pengerjaan, dan produk proyek. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik.  Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk, seperti makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, patung, dan lain-lain), barang-barang terbuat dari kayu, kertas, kulit, keramik, karet, plastik, dan karya logam. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria  yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan.
3.      Penilaian Portofolio
Portofolio adalah sekumpulan artefak (bukti karya/kegiatan/data) sebagai bukti (evidence) yang menunjukkan perkembangan dan pencapaian suatu program. Penggunaan portofolio dalam kegiatan evaluasi sebenarnya sudah lama dilakukan, terutama dalam pendidikan bahasa.[11] Belakangan ini, dengan adanya orientasi kurikulum yang berbasis kompetensi, asesmen portofolio menjadi primadona dalam asesmen berbasis kelas. Perlu dipahami bahwa sebuah portofolio (biasanya ditaruh dalam folder) bukan semata-mata kumpulan bukti yang tidak bermakna. Portofolio harus disusun berdasarkan tujuannya. Wyatt dan Looper  menyebutkan, berdasarkan tujuannya sebuah portofolio dapat berupa developmental portfolio, bestwork portfolio, dan showcase portfolio.[12] Developmental portfolio disusun demikian rupa sesuai dengan langkah-langkah kronologis perkembangan yang terjadi. Oleh karena itu, pencatatan mengenai kapan suatu artefak dihasilkan menjadi sangat penting, sehingga perkembangan program tersebut dapat dilihat dengan jelas. Bestwork portofolio adalah portofolio karya terbaik. Karya terbaik diseleksi sendiri oleh pemilik portofolio dan diberikan alasannya. Karya terbaik dapat lebih dari satu. Showcase portfolio adalah portofolio yang lebih digunakan untuk tujuan pajangan, sebagai hasil dari suatu kinerja tertentu. Bagaimanakah asesmen portofolio membantu memantau pencapaian target kompetensi? Asesmen portofolio adalah suatu pendekatan asesmen yang komprehensif karena: (1) dapat mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor secara bersama-sama, (2) berorientasi baik pada proses maupun produk belajar, dan (3) dapat memfasilitasi kepentingan dan kemajuan peserta didik secara individual. Asesmen portofolio mengandung tiga elemen pokok yaitu: (1) sampel karya peserta didik, (2) evaluasi diri, dan (3) kriteria penilaian yang jelas dan terbuka.
4.      Penilaian Diri/Evaluasi Diri
Evaluasi diri adalah suatu cara untuk melihat kedalam diri sendiri. Melalui evaluasi diri peserta didik dapat melihat kelebihan maupun kekurangannya, untuk selanjutnya kekurangan ini menjadi tujuan perbaikan (improvement goal). Dengan demikian, peserta didik lebih bertanggungjawab terhadap proses dan pencapaian tujuan belajarnya (Rolheiser dan Ross, Dalam Dantes, 2008). Rolheiser dan Ross (Dalam Dantes, 2008) mengajukan suatu model teoretik untuk menunjukkan kontribusi evaluasi diri terhadap pencapaian tujuan. Model tersebut menekankan bahwa, ketika mengevaluasi sendiri performansinya, peserta didik terdorong untuk menetapkan tujuan yang lebih tinggi (goals). Untuk itu, peserta didik harus melakukan usaha yang lebih keras (effort). Kombinasi dari goals dan effort ini menentukan prestasi (achievement); selanjutnya prestasi ini berakibat pada penilaian terhadap diri (self-judgment) melalui kontemplasi seperti pertanyaan, ‘Apakah tujuanku telah tercapai’? Akibatnya timbul reaksi (self-reaction) seperti ‘Apa yang aku rasakan dari prestasi ini? Evaluasi diri adalah suatu unsur metakognisi yang sangat berperan dalam proses belajar. Oleh karena itu, agar penilaian dapat berjalan dengan efektif, ada empat langkah dalam berlatih melakukan penilaian diri, yaitu:[13] (1) libatkan semua komponen dalam menentukan kriteria penilaian, (2) pastikan semua peserta didik tahu bagaimana caranya menggunakan kriteria tersebut untuk menilai kinerjanya, (3) berikan umpan balik pada mereka berdasarkan hasil evaluasi dirinya, dan (4) arahkan mereka untuk mengembangkan sendiri tujuan dan rencana kerja berikutnya. Untuk langkah pertama, yaitu menentukan kriteria penilaian. Guru mengajak peserta didik bersama-sama menetapkan kriteria penilaian. Pertemuan dalam bentuk sosialisasi tujuan pembelajaran dan curah pendapat sangat tepat dilakukan. Kriteria ini dilengkapi dengan bagaimana cara mencapainya. Dengan kata lain, kriteria penilaian adalah produknya, sedangkan proses mencapai kriteria tersebut dipantau dengan menggunakan ceklis evaluasi diri. Cara mengembangkan kriteria penilaian sama dengan mengembangkan rubrik penilaian dalam asesmen kinerja. Ceklis evaluasi diri dikembangkan berdasarkan hakikat tujuan tersebut dan bagaimana mencapainya. Jurnal merupakan wadah yang memuat hasil refleksi berupa sebuah dokumen yang secara terus menerus bertambah dan berkembang, dan ditulis oleh peserta didik untuk mencatat setiap kemajuan. Jurnal juga merupakan catatan pendidik selama proses pembelajaran yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang terkait dengan kinerja ataupun sikap dan perilaku peserta didik yang dipaparkan secara deskriptif. Jurnaljugamerupakan laporan yang ditulis sendiri oleh peserta didik, dimanapeserta didik menceritakan hal-hal mengenai subjek yang telah dipelajarinya.
Jurnal digunakan untuk kelengkapan assessment, yaitu untuk memperoleh beberapa pemecahan masalah yang berasal dari buku pelajaran yang dipelajari peserta didik atau pekerjaan rumah yang telah dibuat oleh peserta didik,  untuk memperoleh tanggapan peserta didik terhadap pertanyaan dari pendidik atau peserta didik lainnya, untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan melaporkan bagaimana cara memecahkan masalah tersebut, untuk mengklarifikasikan sesuatu yang baru dan menyempurnakan suatu teori  dari apa yang telah dipelajari di sekolah, untuk menghubungkan ide-ide yang telah dikemukakan dari suatu permasalahan, dari pemikiran tentang proyek yang berpotensi, tulisan-tulisan, dan presentasi-presentasi, dan untuk mengikuti kemajuan  dari sebuah eksperimen, situasi di sekolah terhdap peserta didiknya terjadi selanjutnya.
Kelebihan penilaian Jurnal antara lain dapat membantu mengidentifikasi apa yang telah dipelajari dan meningkatkan bagian yang masih kurang, membantu melihat pola belajar dan gaya belajar, memberikan gambaran mengenai kemajuan yang didapat masalah yang dihadapi dan bagaimana menyelesaikannya, memiliki catatan tentang segala aktivitas yang dilakukan, membantu pengorganisasian belajar, melatih kemampuan menulis pertanyaan bagi pendidik, dan melatih kemampuan mengkomunikasikan respon dengan cara yang dirasa nyaman. Teknik penilaian Jurnal dilakukan dengan menilai hasil kumpulan catatan atau keberhasilan dalam suatu kegiatan dengan memperhatikan beberapa aspek, yaitu: catatan dasar atau kelengkapan catatan, ketepatan waktu, pengembangan indicator yang tinggi, sedang dan rendah, penilaian  jurnal pada  criteria lainnya, dan menambahkan penilaian untuk criteria bersama lainnya untuk menentukan nilai total.
5.      Penilaian Tertulis
(Tes) esai menghendaki peserta didik untuk mengorganisasikan, merumuskan, dan mengemukakan sendiri jawabannya. Ini berarti peserta didik tidak memilih jawaban, akan tetapi memberikan jawaban dengan kata-katanya sendiri secara bebas. Tes esai dapat digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu tes esai jawaban terbuka (extended-response) dan jawaban terbatas (restricted-response) dan hal ini tergantung pada kebebasan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengorganisasikan atau menyusun ide-idenya dan menuliskan jawabannya. Pada tes esai bentuk jawaban terbuka atau jawaban luas, peserta didik mendemonstrasikan kecakapannya untuk:[14] (1) menyebutkan pengetahuan faktual, (2) menilai pengetahuan faktualnya, (3) menyusun ide-idenya, dan (4) mengemukakan idenya secara logis dan koheren. Sedangkan pada tes esai jawaban terbatas atau terstruktur, peserta didik lebih dibatasi pada bentuk dan ruang lingkup jawabannya, karena secara khusus dinyatakan konteks jawaban yang harus diberikan oleh peserta didik. Esai terbuka/tak terstruktur merupakan bentuk asesmen otentik. Tes esai memiliki potensi untuk mengukur hasil belajar pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks. Butir tes esai memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyusun, menganalisis, dan mensintesiskan ide-ide, dan peserta didik harus mengembangkan sendiri buah pikirannya serta menuliskannya dalam bentuk yang tersusun atau terorganisasi. Kelemahan esai adalah berkaitan dengan penskoran. Ketidakkonsistenan pembaca merupakan penyebab kurang objektifnya dalam memberikan skor dan terbatasnya reliabilitas tes.

















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka kesimpulan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Penilaian autentik merupakan proses pengumpulan informasi oleh pendidik tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Penggunaan penilaian autentik sebagai evaluasi hasil pembelajaran peserta didik di sekolah merupakan suatu solusi yang bisa ditawarkan untuk melihat sejauh mana pembelajaran yang dilakukan berjalan dengan efektif. Penerapan authentic assessment sebagai alat evaluasi hasil belajar di sekolah-sekolah ataupun level universitas penting untuk diperhatikan agar peerta didik tidak hanya sekedar menjadi pembelajar saja, namun pada akhirnya pencapaian prestasi diikuti dengan kemampuan mengaplikasikan kemampuan yang dimilikinya ke dalam dunia nyata. Penilaian autentik bertujuan mengevaluasi kemampuan peserta didik dalam konteks dunia nyata.
2.    Mengukur keterampilan dan perfomansi, bukan mengingat fakta. Artinya, penilaian autentik itu ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi yang menekankan aspek keterampilan (skill) dan kinerja (performance), bukan hanya mengukur kompetensi yang sifatnya mengingat fakta (hafalan dan ingatan) adalah salah satu karakteristik penilaian autentik.
3.    Terdapat tiga komponen utama dalam asesmen kinerja, yaitu tugas kinerja (performance task), rubrik performansi (performance rubrics), dan cara penilaian (scoring guide). Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik.  Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk, seperti makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, patung, dan lain-lain), barang-barang terbuat dari kayu, kertas, kulit, keramik, karet, plastik, dan karya logam.

B.     Saran
Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu penulis berharap kritik yang membangun untuk penyempurnaan penulisan di masa mendatang.
























DAFTAR PUSTAKA
Badarudin. Penilaian Proyek. http://ayahalby.wordpress.com/. 2013
Dantes, Nyoman. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha, h. 63 Zainul & Nasution. (2001). Penilaian Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti. 2008.
Kunandar. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013. Jakarta: Rajawali Press. 2013
Muchtar, Hartati. Penerapan Penilaian Autentik dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan. Jakarta: Jurnal Pendidikan Penabur, 2010.
Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2009.
Sulipan. Penilaian Autentik dalam Kurikulum . http://sulipan.wordpress.com/. 2013
Tola, Burhanuddin. Penilaian Diri (Self Evaluation). Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemendiknas. 2010.







[1] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009), h. 23
[2] Nyoman Dantes, Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). (Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha, 2008), h. 63
[3] Zainul & Nasution, Penilaian Hasil belajar. (Jakarta: Dirjen Dikti, 2001), h. 125
[4] Op Cit, h. 83
[5] Nurgiyantoro, Penilaian Otentik, (Jurnal Cakrawala Pendidikan. November 2008, Th. XXVII, No. 3).
[6] Sunarmi dan Triastono, Evaluasi proses dan Hasil Belajar. Malang: Dirjen DIKTI dan UM (Program SEMI-QUE IV, 2003), h. 97.
[7] Kunandar, Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 87
[8] Hartati Muchtar, Penerapan Penilaian Autentik dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan. (Jakarta: Jurnal Pendidikan Penabur, 2010), h. 75
[9] Badarudin, Penilaian Proyek, http://ayahalby.wordpress.com/, 2013.
[10] Ibid
[12]Ibid
[13] Sulipan, Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013. http://sulipan.wordpress.com/
[14] Burhanuddin Tola, Penilaian Diri (Self Evaluation), (Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemendiknas, 2010), h. 69

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teori Belajar Klasik

Tugas: Makalah TEORI-TEORI KLASIK DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ...