Tugas: Makalah
TEORI-TEORI KLASIK DALAM BELAJAR DAN
PEMBELAJARAN
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Teori
Belajar dan Pembelajaran PAI
Dosen Pengampu: Dr. Imelda
Wahyuni, S.S.,M.Pd.I
OLEH
WA ODE SYAMSINAR NADIA
NIM: 1604020202023
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
KENDARI
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur
senantiasa tercurah kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, nikmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Teori-Teori Klasik dalam Belajar dan
Pembelajaran” sesuai dengan waktu yang diharapkan. Makalah ini diajukan guna memenuhi
tugas mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran PAI.
Makalah ini membahas tentang teori-teori
klasik dalam belajar dan pembelajaran yang mencakup Teori Disiplin Mental
Theistik, Teori Humanistik, Teori Naturalis, Teori Apersepsi/Herbartisme. Selain itu, untuk memperdalam pengkajian teori-teori
klasik dalam belajar dan pembelajaran maka penulis memberikan penjelasan
beberapa pendapat para tokoh Barat dan disandingkan dengan tokoh Islam. Informasi yang dihasilkan dalam makalah ini
menjadi referansi penting dalam memahami teori-teori klasik dalam belajar dan
pembelajaran secara parsial dan komprehensif.
Dalam penulisan makalah ini, penulis
banyak merujuk referensi dari buku Filsafat Pendidikan. Referensi lain
diperoleh dari informasi yang berkembang dari diskusi para pakar tentang teori-teori
belajar di media cetak dan elektronik.
Selain itu, untuk memperkaya khasanah teori belajar, penulis juga banyak
menerima masukan dari rekan-rekan mahasiswa S2 Pendidikan Agama Islam IAIN
Kendari. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat konstruktif
sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Selain itu, penulis berharap
makalah ini dapat memberikan informasi bagi pembaca sehingga bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua terutama
tentang Teori-Teori Klasik dalam Belajar dan Pembelajaran.
Kendari, 17 April 2017
Penulis,
Wa
Ode Syamsinar Nadia
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ........................................................................................ i
Kata Pengantar........................................................................................... ii
Daftar Isi .................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................... 1
A.
Latar Belakang................................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah ...................................................................
C.
Tujuan dan
Manfaat Penulisan.......................................................
2
BAB II. PEMBAHASAN.........................................................................
A. Konsep
Dasar Teori Klaik dalam Belajar dan Pembelajaran.......... 3
B. Teori-Teori
Klasik dalam Belajar dan Pembelajaran....................... 4
BAB III. PENUTUP..................................................................................
A.
Kesimpulan ................................................................................... 23
B.
Saran ............................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 24
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru adalah teknisi pengajaran yang berurusan dengan
produk-produk pembelajaran dan guru dapat menggunakan prosedur yang telah
dibuat oleh teknologi pembelajaran tanpa mementingkan intuisi serta tidak
perlu lagi melakukan validasi empiris. Hal ini dikarenakan prosedur yang dibuat
telah diawali oleh intuisi dan telah diuji secara empiris. Dalam menyusun
prosedur tersebut teknologi pembelajaran telah menggunakan teori/prinsip yang
dihasilkan oleh ilmuwan, dalam menghasilkan teori, ilmuwan telah melakukan
pengujian interaktif dan utuh. Dengan adanya teori belajar dan pembelajaran
guru bisa memanfaatkan teori tersebut untuk menjadi guru yang professional,
misalnya dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang tepat, memilih strategi yang
sesuai, memberikan bimbingan atau konseling, memfasilitasi dan memotivasi
belajar peserta didik, menciptakan iklim belajar yang kondusif, berinteraksi
dengan siswa secara tepat dan memberi penilaian secara adil terhadap hasil
pembelajaran.
Seorang guru profesional
tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu dikembangkan. Dalam
rangka meningkatkan kemampuan guru, mereka
harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi sebagai
pengajar. Jerome S. Bruner, seorang
peneliti terkemuka memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori pembelajaran untuk mendukung proses
pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi
bekal persiapan profesionalitas para guru dengan argumen bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu
sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori pembelajaran.[1]
Teori pembelajaran yang sudah ada selama ini, hanya terfokus pada
kepentingan teoritis semata. Sebagai contoh, pada saat membahas tentang teori
perkembangan, seorang anak tidak diajarkan pengaruhnya terhadap tantangan
sosial dan bagaimana pengalaman nyata yang nantinya akan dialami anak ketika
berada di masyarakat. Masih banyak contoh-contoh lain, bagaimana sebuah teori belajar dan pembelajaran tidak menyentuh
aspek sosial dari siswa,
dan hal ini merupakan bentuk pembodohan secara intelektual dan tidak memiliki
tanggung jawab moral.
Berdasarkan permasalahan di atas, kita menyadari bahwa
sebuah teori belajar dan pembelajaran sebaiknya juga memiliki unsur praktek
untuk membimbing seseorang bagaimana caranya ia memperoleh pengetahuan dan
keterampilan, pandangan hidup, serta pengetahuan akan kebudayaan masyarakat
sekitarnya. Oleh sebab itu, mari kita susun beberapa teorema yang memungkinkan
akan membawa kita kepada sebuah teori belajar dan pembelajaran yang baik agar guru memahaminya
dengan komprehensif. Ada lima perspektif utama dalam
teori belajar, yaitu behavioristik, kognitivistik, konstruktivistik,
humanistik, sibernetik dimana dasarnya teori pertama dilengkapi oleh teori
kedua dan seterusnya, sehingga ada varian, gagasan utama, ataupun tokoh yang tidak dapat
dimasukkan dengan jelas termasuk yang mana, atau bahkan menjadi teori tersendiri.
Hal ini
tidak perlu kita perdebatkan
dan yang lebih penting untuk kita pahami adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada kawasan tertentu, dan
teori mana yang sesuai untuk kawasan lainnya.
Pemahaman seperti
ini, sangat penting untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam penulisan makalah ini, akan
mengulas lebih jauh terkait dengan teori-teori klasik dalam belajar dan
pembelajaran sebagai dasar dalam teori belajar dan pembelajaran. Oleh karena
itu, diperlukan kajian teoritis dalam mengasumsi konsep dasar dari teori
tersebut dan unsur historisnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1. Bagaimana konsep dasar
teori klasik dalam belajar dan pembelajaran?
2. Bagaimana teori-teori
klasik dalam belajar dan pembelajaran?
A. Tujuan dan Manfaat
Penulisan
1.
Tujuan Penulisan
a.
Memahami konsep daar teori klasik dalam belajar dan
pembelajaran.
b.
Memahami secara komprehensif teori-teori klasik dalam
belajar dan pembelajaran
2.
Manfaat Penulisan
a.
Manfaat Praktis
1)
Untuk mengidentifikasi perbedaan yang signifikan terhadap
teori-teori klasik dalam belajar dan pembelajaran.
2)
Menjadi bahan acuan bagi guru dalam mengembangkan proses
pembelajaran.
b.
Manfaat Teoritis
Menambah
khasanah ilmu pendidikan terkait dengan teori-teori klasik dalam belajar dan
pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Teori
Klasik dalam Belajar dan Pembelajaran
1. Defenisi Teori Klasik dalam
Belajar dan Pembelajaran
Teori adalah serangkaian
konsep, defenisi,
dan preposisi yang saling berkaitan dan bertujuan untuk memberikan gambaran
yang sistematis tentang suatu fenomena pada umumnya. Penggunaan teori digunakan dalam menelaah suatu masalah
atau fenomena yang terjadi sehingga fenomena tersebut dapat diterangkan secara
eksplisit dan sistematis.
Jonathan H. Turner mengemukakan bahwa teori adalah sebuah
proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan
mengapa suatu peristiwa terjadi.[2] Berdasarkan
pendapat tersebut dapat diasumsikan bahwa teori merupakan konsep yang
sistematis dalam menelaah dan mengembangkan ide terhadap suatu peristiwa.
Sedangkan defenisi belajar menurut Winkel adalah semua aktivitas mental atau psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.[3] Gagne di dalam bukunya The Conditions of Learning mengatakan
bahwa pengertian belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan
dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu
berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu.[4] Perubahan yang
terjadi dimaksud disebabkan adanya pengalaman dan latihan-latihan bukan berupa
akibat refleks atau naluri. Teori belajar merupakan
cara-cara yang digunakan untuk memahami tingkah
laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan. Oleh karena itu, dapat
diidentifikasi bahwa teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman
ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen.
2. Sejarah Teori Belajar
Klasik
Berdasarkan unsur historisnya bahwa teori belajar klasik
berkembang sebelum abad ke 20 yang dikenal dengan teori belajar disiplin
mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan
hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad
ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya,
terutama dalam pelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah. Teori ini menganggap
bahwa secara psikologi individu memiliki kekuatan, kemampuan atau
potensi-potensi tertentu. Belajar adalah pengalaman dari kekuatan, kemampuan
dan potensi-potensi tersebut. Teori
belajar disiplin mental, merupakan salah satu pandangan yang mula-mula
memberikan definisi tentang belajar yang disusun oleh filsuf Yunani bernama
Plato. Pandangan filsafatnya yaitu tentang idealisme yang melukiskan pikiran
dan jiwa yang bersifat dasar bagi segala sesuatu yang ada. Idealisme hanyalah
ide murni yang ada di dalam fikiran karena pengetahuan seseorang berasal dari
ide yang ada sejak kelahirannya. Belajar dilukiskan sebegai pengembangan oleh
fikiran yang bersifat keturunan. Kepercayaan ini kemudian dikenal sebagai
konsep “disiplin mental”.
Menurut Jean
Jacques Rosseon, anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui
belajar anak harus diberi kesempatan untuk mengembangkan atau mengaktualkan
potensi tersebut.[5] Sedangkan
menurut psikologi atau faculty psychology adalah individu memiliki sejumlah
daya-daya seperti daya mengenal, mengingat, menganggap, mengkhayal, berfikir
dan sebagainya. Daya itu dapat dikembangkan melalui latihan dalam bentuk
ulangan, apabila anak dilatih banyak mengulang-ulang, menghafal sesuatu maka ia
akan mengingat terus akan hal itu.
Istilah teori belajar tersebut muncul setelah terjadi kesulitan ketika akan
menjelaskan proses belajar secara menyeluruh. Berawal dari kesulitan
tersebut munculah beberapa persepsi berbeda dari para psikolog sehingga
menghasilkan dalil-dalil yang memiliki inti kalau teori belajar adalah alat
bantu yang sistematis dalam proses belajar. Teori-teori belajar dikalangan
psikolog bersifat eksperimental, dimana teori yang mereka kemukakan hanyalah
berupa pendapat dari pengalaman mereka ketika dalam kegiatan belajar
berlangsung. Dari interaksi tersebut, para psikolog menyusun proposisi yang
mereka tekuni sehingga menghasilkan madzhab yang mereka ciptakan itu bisa
digunakan sebagai landasan pola pikir mereka. Sejarah perkembangan
pengetahuan
umat manusia mencatat
bangsa Yunani Kuno sebagai bangsa yang mengalami zaman
keemasan bagi proses berpikir. Berbagai karya
fikiran manusia secara teoritis meliputi banyak aspek dalam hidup terutama di
bidang
filsafat
sehingga dapat dikatakan
sebagai karya-karya
terbesar
sepanjang
zaman. Pengaruh
karya-karya filsafat Yunani kuno
tetap terasa hingga saat ini. Di antara filsuf Yunani yang
paling popular ajarannya adalah
tiga tokoh
utama Socrates, Plato dan Aristoteles. Berabad-abad setelah ketiga tokoh utama Yunani tersebut tidak terdapat
perkembangan lebih lanjut dari pengetahuan atau teori mengenai proses belajar dan perkembangan diri manusia. Bahkan setelah Romawi berkuasa di seluruh Eropa, belajar
lebih
difokuskan
pada seni perang dan baca
tulis
serta seni sastra
menjadi
kurang berkembang.
Perang
demi
perang yang terjadi mengikis kecintaan masyarakat terhadap pengetahuan
dan
seni. Hingga akhirnya kondisi Romawi semakin
memburuk. Pada abad-abad pertengahan itulah muncul gerakan Islam dari daerah timur tengah, yang sedemikian
cepat menyebar
dan menguasai daerah-daerah
yang sebelumnya menjadi kekuasaan Romawi dan Persia, harus diketahui bahwa teori belajar
tidak hanya dikemukakan oleh tokoh-tokoh Barat, tetapi
jauh sebelumnya para
tokoh Islam, baik hidup di
era klasik, pertengahan,
maupun yang hidup di era modern, telah membahas
tentang belajar dan pembelajaran dalam
karyanya masing- masing.
Tetapi gagasan mereka tentang teori
belajar secara umum masih kurang mendapat
perhatian terutama yang bergelut dalam dunia pendidikan. Tokoh-Tokoh Islam di era klasik
diantaranya Al-Ghazali (450 H / 1058 M-18 Desember 1111M) dan
Ibnu Kaldun (. Dalam
gerakan
Islam ini,
terdapat
suatu
ajaran
untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga setelah
itu banyak sekali ilmuwan-ilmuwan
muslim mengeksplorasi dan
mengembangkan teori-teori keilmuan
bangsa Yunani yang sebelumnya seolah
mati. Oleh karena itu, menurut rumpuan teori disiplin
mental dari kelahirannya atau secara herediter, anak telah memiliki
potensi-potensi tertentu. Ada beberapa teori yang termasuk rumpun disiplin
mental/teori belajar klasik yaitu:
a.
Teori
disiplin mental theistik, berasal dari psikologi daya
seperti mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan
sebagainya.
b. Teori
disiplin mental humanistik, lebih mementingkan keseluruhan, keutuhan.
c. Teori
disiplin mental naturalis, teori ini mempunyai potensi atau kemampuan untuk
berbuat atau melaksanakan tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan
untuk berkembang dan belajar sendiri.
d. Teori
appersepsi/hebartisme, teori ini membantu anak untuk mempunyai kemampuan dalam
mempelajari sesuatu dan menguasai pengetahuan selanjutnya.
3. Ilmuwan Teori Belajar
Klasik dan Pembelajaran
a.
Ilmuwan Barat
Di antara filsuf Yunani yang paling
popular ajarannya adalah tiga tokoh utama Socrates (470–399 SM), Plato (427–347) dan Aristoteles (384–323 SM). Mereka bertiga secara
berurutan merupakan guru dan murid (Aristoteles murid Plato, dan Plato adalah murid Sokrates)
sehingga
secara
substansial banyak pemikiran di
antara ketiganya yang memiliki kesamaan. Socrates merupakan
tokoh yang
mengembangkan metode dialektika/kritis untuk mencari
kebenaran. Bagi Sokrates kebenaran bukanlah sesuatu yang
bersifat statis sehingga hanya
diajarkan melalui transfer yang dogmatis melainkan melalui suatu diskusi yang kritis
(mendalam). Diantara kebenaran yang
harus dicari dan diajarkan, Socrates menganggap
kebenaran
yang bersifat sosial (etika diantara sesama manusia) yang yang paling
utama. Perkembangan teori belajar sebelum abad ke-20
dikembangkan tanpa dilandasi oleh eksperimen. Jadi teori-teori belajar yang
muncul sebelum abad ke-20 merupakan hasil dari pengalaman, orientasi filosofi
(berfikir secara mendalam). Beberapa teori belajar sebelum abad ke-20 adalah teori disiplin mental (Socrates, Plato, Aristoteles, dan lain sebagainya) atau dikenal dengan sebutan teori disiplin
mental humanistik, teori
diiplin
mental naturalis (natural unfoldment) yang dikembangkan oleh Jean J. Roussseau (1712-1778),
Swiss Heinrich Pestalozzi (1746-1827) seorang ahli pendidik, dan dari Jerman Friedrich Froebel (1782-1852) adalah
seorang ahli filsafat, pedidik dan penemu gerakan “Kindegarten”, teori appersepsi
(herbartisme)
oleh Johan Friedrich
Herbart 1776-1841.
b.
Ilmuwan Islam
Di awal era pertumbuhan Islam, dunia pengetahuan
mengalami zaman keemasan dengan bermunculannya ilmuwan-ilmuwan muslim yang
sampai sekarang penemuannya masih digunakan dan menjadi rujukan sebagai dasar
dari perkembangan pengetahuan modern, tetapi karena kurangnya publisitas dan
banyaknya peristiwa sejarah yang menjadikan nama-nama mereka kurang dikenal bahkan
di kalangan para umat Islam itu sendiri. Ilmuwan tersebut diantaranya Imam Al
Ghazali (450 H-505 H) yang berpandangan bahwa “sesungguhnya hasil ilmu itu
ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, menghubungkan diri
dengan ketinggian malaikat dan berkemampuan dengan malaikat tinggi”. “Dan ini sesungguhnya
adalah dengn ilmu yang berkembang melalui pelajaran dan bukan ilmu yang beku
yang tidak berkembang”.[6]
Jika kita perhatikan pada kutipan yang pertama kata “hasil” menunjukkan proses,
kata mendekatkn diri kepada Allah menunjukkan tujuan, dan kata ilmu menunjukkan
alat sedangkan pada kutipan kedua merupakan penjelasan, dan lain sebagainya
mengenai ilmu yakni disampaikan dalam bentuk pengajaran. Ibn Khaldun (.
B. Teori-Teori Klasik dalam
Belajar dan Pembelajaran
1.
Teori Disiplin Mental Theistik
a. Pengertian Teori
Disiplin Mental Theistik
Teori
belajar ini berasal dari psikologi daya dan menurut teori ini bahwa individu
atau anak memiliki sejumlah daya mental seperti pikiran, ingatan, perhatian,
kemampuan, keputusan, observasi, tanggapan dan lain sebagainya. Masing-masing
daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan-latihan dan manusia
hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya
dirasakan ketika dipergunakan untuk sesuatu hal. Seseorang belajar didasari
oleh kesiapan mental yang
terdiri dari jumlah daya (kekutan) yang dimana satu sama lain terpisah. Teori
ini memandang bahwa belajar pada bahan ajar telah mempunyai nilai dan nilai
tersebut terletak pada formalnya, bukan pada materinya. Artinya, apapun materi
ajar yang dipelajari seseorang tidaklah penting, melainkan yang penting adalah
pengaruhnya dalam membentuk daya-daya tertentu. Teori ini juga didasarkan pada
suatu konsep bahwa manusia merupakan suatu sistem energi yang dinamis meliputi
respon terhadap rangsangan, dorongan, dan proses penalaran untuk memelihara
kesimbangan dalam merespon sistem-sistem energi lain sehingga pembelajaran dapat
berinteraksi melalui rasa. Merujuk pada teori ini, juga mendasar adanya tingkah
laku (behaviorisme) manusia merupakan tanggapan (respon) terhadap ransangan (stimulan)
yang disebabkan oleh sesuatu yang dilihatnya. Jadi, terjadinya tingkah laku disebabkan
oleh sesuatu yang lain sehingga munculah dua aliran: koneksinoisme/sosianisme
yaitu terjadinya tingkah laku manusia karena respon yang disebabkan oleh
stimulan lain dimana satu dengan yang lainnya saling berhubungan; konotivisme,
yakni terjadinya tingkah laku manusia karena kemampuan untuk mengetahui dan
membuat hubungan antara komponen yang diketahuinya, kemampuan mengetahui
(kognitif) inilah menjadi respon seseorang terhadap stimulan yang semakin kuat.
Selain itu, jiwa manusia terdiri dari
berbagai daya, mengingat, berpikir, merasakan, kemauan dan sebagainya. Tiap
daya mempunyai fungsinya sendiri-sendiri dan tiap orang mempunyai/memiliki
semua daya-daya itu, namun yang membedakan hanyalah kekuatannya saja. Agar
daya-daya itu berkembang (terbentuk) maka hal tersebut perlu dilatih sehingga
dapat berfungsi dengan baik. Teori ini bersifat formal, karena mengutamakan
pembentukan daya-daya. Apabila suatu daya telah dilatih maka secara tidak langsung
akan mempengaruhi daya-daya lainnya dan seseorang dapat melakukan transfer of learning terhadap situasi
lain. Untuk itulah, kurikulum harus menyediakan mata pelajaran-mata pelajaran
yang dapat mengembangkan daya-daya tersebut. Tekanannya bukan terletak pada isi
materinya, melainkan pada pembentukannya. Pendidikan dengan latihan pemilihan mata
pelajaran dilakukan atas dasar pembentukan daya-daya secara efisien dan ekonomis.
Kurikulum terorganisir diperuntukkan bagi semua anak, dan kurang mementingkan
isi serta minat anak. Kebudayaan ditanamkan pada anak untuk mempersiapkannya ke
tujuan masyarakat. Berkat kemajuan dalam psikologi, maka munculah teori-teori
baru yang disebut Phrenologi.
Phrenologi adalah kombinasi antara
psikologi daya dan fisiologi yang pada prinsipnya menyatakan bahwa otak kita
terbagi menjadi beberapa daerah dan tiap daerah mempunyai fungsi yang
berbeda-beda. Tiap fungsi itu terletak pada bagian tertentu pada otak. Dengan
demikian terdapat karakteristik mental individual. Tiap fungsi mempunyai
pusatnya masing-masing dan mengandung kesatuan fungsional. Teori tentang belajar yang
berlandaskan psikologi daya merupakan teori belajar yang pertama kali muncul.
Menurut para ahli psikologi daya, mental itu terdiri dari sejumlah daya yang
satu sama lain terpisah. Mengingat misalnya, dapat dilatih melalui hafalan,
berpikir melalui berhitung, demikan pula dengan daya yang lain. Belajar menurut
teori ini adalah meningkatkan kemampuan daya-daya melalui latihan. Nilai suatu
bahan pelajaran terletak pada nilai formalnya, bukan pada nilai materialnya.
Jadi, apa yang penting tidak dipersoalkan sebab yang penting dari suatu bahan
pelajaran adalah pengaruhnya dalam membentuk daya-daya tertentu. Kemampuan daya
yang sudah terbentuk dan berkembang pada seseorang dialihkan pada situasi baru
dalam kehidupan. Teori daya tidak berkembang luas seperti teori asosiasi dan
teori gestalt sehingga tidak begitu populer.
b. Ciri-Ciri Teori Disiplin
Mental Theistik
Lebih menekankan
pada kemandirian dan keterlibatan psikis, namun tidak terlalu mementingkan
fisik yang bertujuan untuk meningkatkan potensi-potensi yang dimiliki oleh
peserta didik.
c. Pandangan Tokoh Teori
Disiplin Mental Theistik
Christian Wolff
(1679-1754), seorang ahli filsafat Jerman yang berpengaruh besar di abad ke 18
dan berpendapat bahwa pikiran atau otak manusia mempunyai kecakapan yang jelas
dan berbeda-beda.[7]
Kecakapan dasar tersebut adalah pengetahuan, perasaan, ingatan, dan akal budi
inti sedangkan kecakapan akal budi meliputi kemampuan menggambarkan
perbedaan-perbedaan dan menafsirkan atau menilai bentuk. Orang yang akan dapat
belajar jika mental atau dayanya dilatih dengan keras terutama daya nalarnya
dan selanjutnya belajar identik dengan mengasah otak.
d. Paham Tokoh Muslim yang
Identik dengan Teori Disiplin Mental Theistik
Konsep Ibn Jam’ah tentang metode pembelajaran banyak
ditekankan pada hafalan ketimbang dengan metode lain. Sebagaimana dikatakan
bahwa hafalan sangat penting dalam proses pembelajarannya, sebab ilmu didapat
bukan dari tulisan di buku, melainkan dengan pengulangan secara terus-menerus.
e. Kelebihan dan Kelemahan
Teori Disiplin Mental Theistik
1) Kelebihan Teori Disiplin
Mental Theistik
a) Meningkatkan kemampuan
dan keterampilan dengan melatih daya atau kemampuan peserta didik.
b) Memperkaya pengetahuan
dengan metode belajarnya yang dilakukan secara bertahap.
c) Mendisiplinkan peserta
didik
2) Kelemahan Teori Disiplin
Mental Theistik
Menyebabkan suasana
belajar yang tegang dan menyeramkan jika dilaksanakan secara berlebihan
sehingga kemungkinan dapat membebani mental peserta didik.
f. Penerapan Teori Disiplin
Mental Theistik dalam Pembelajaran
Pembelajaran yang
melatih kemampuan (daya) peserta didik dapat dilakukan dengan mengamati gambar,
mengingat kata, arti kata, dan lain sebagainya. Pembelajaran seperti ini dapat
meningkatkan kemampuan peserta didik dari berbagai keterampilan. Teori ini bersifat
formal karena mengutamakan daya-daya dan terdapat karakteristik mental
individual serta mengandung kesatuan fungsional.
2.
Teori Disiplin Mental Humanistik
a. Pengertian Teori Disiplin Mental Humanistik
Teori
belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya,
bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah
membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing
individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan
membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam
teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia
itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses
belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan
dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori
ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada
belajar seperti apa adanya dan apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.
Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia”
(mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai. Dalam teori belajar
humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya
dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar
lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Pendekatan
sistem tersebut dapat di lakukan agar para peserta didik dapat memilih suatu
rencana pelajaran dan mereka dapat mencurahkan waktu bagi bermacam-macam tujuan
belajar atau sejumlah pelajaran yang akan dipelajari atau jenis-jenis pemecahan
masalah dan aktifitas-aktifitas kreatif yang mungkin dilakukan. Pembatasan
praktis dalam pemilihan hal-hal itu mungkin di tentukan oleh keterbatasan
bahan-bahan pelajaran dan keadaan tetapi dalam pendekatan sistem itu sendiri
tidak ada yang membatasi keanekaragaman pendidikan ini. Tujuan utama para
pendidik adalah membantu si peserta didik untuk mengembangkan dirinya, yaitu
membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai
manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam
diri mereka. Jadi, teori belajar humanistik adalah suatu teori dalam
pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta
didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
b. Ciri-Ciri Teori Disiplin
Mental Humanistik
Sekurang-kurangnya ada dua ciri khas gerakan humanistik. Ciri
pertama dapat ditemukan dalam minat yang besar dan proyek untuk melanjutkan dan
mengembangkan tradisi retorika dalam dunia Barat. Tradisi ini, yang umurya
sudah setua para sofis Yunani,
menekankan pentingnya peran para ahli pidato (orators atau rhetoricians) dalam
zaman klasik, yakni mereka yang menyediakan bentuk paling umum pendidikan
tinggi.
Dalam zaman klasik, orang cukup bisa membaca dan berbicara dengan fasih
untuk dipandang sebagai orang yang berpendidikan. Para tokoh humanis
mengembangkan sebuah keyakinan baru bahwa cara yang paling baik untuk berbicara
dengan fasih adalah dengan meniru para ahli pidato klasik, khususnya Cicero
(106-43 SM). Dalam hal ini Renaissance dapat dikatakan sebagai era Ciceronisme
dalam studi dan peniruan terhadap gaya retorikanya. Dalam banyak karyanya termasuk De
Officiis (mengenai tanggung jawab publik), Cicero menekankan pentingnya kefasihan
berbicara (eloquence) sebab adakah hal lain yang lebih baik daripada kefasihan
berbicara dalam membangkitkan kekaguman di antara para pendengarnya, harapan
bagi orang yang sedang berkesusahan, atau rasa syukur bagi mereka yang bernasib
baik.[8]
Para humanis setuju dengan apa yang diyakini Cicero yakni keterampilan dan cara
beretorika yang baik selain menyentuh akal budi juga menggugah imajinasi dan
emosi yang akan membawa para pendengar ke arah tindakan yang positif. Sementara
karya-karya retorikanya memuat teori, orasi-orasi Cicero, surat-surat, serta
dialog-dialognya menjadi contoh konkret bagi banyak orang mengenai berbagai
bentuk literatur prosa.
Secara
khusus para humanis menaruh minat pada sintesa filsafat dan retorika dalam
karya-karya Cicero. Semangat ini kemudian menjadi gagasan ideal bagi para
humanis
yakni kombinasi antara kefasihan berbicara (eloquence) dan kebijaksanaan
(wisdom), yang cukup banyak mewarnai corak literatur Renaissance. Ciri khas
kedua humanistik berkaitan
erat dengan tujuan umum pendidikan humanistik sebagai persiapan atas tugas
pelayanan public
dimana yang ditanamkan di sini adalah keutamaan sivik (civic
virtue). Dalam De Officiis, Cicero membangun relasi antara setiap individu dan
seluruh komunitas umat manusia, dan secara khusus antara seorang warga negara
dan negaranya "Tidak ada relasi sosial yang lebih erat daripada relasi
yang menghubungkan kita semua dengan negara kita." Menurut Cicero, segala yang kita
miliki, termasuk bakat dan keterampilan kita, harus dibagi-bagikan kepada orang
lain demi perbaikan dan kesejahteraan seluruh masyarakat: "Seperti diungkapkan
dengan penuh kekaguman oleh Plato, kita dilahirkan bukan untuk diri kita
sendiri.[9]
Negara kita pun mengklaim bagian dari kita, demikian juga para sahabat
kit, sebagai manusia juga dilahirkan untuk manusia lainnya, supaya kita dapat
saling menolong satu sama lain. Dalam hal ini kita harus mengikuti alam sebagai
petunjuk, dalam memberikan sumbangan bagi kebaikan umum melalui pertukaran
tindakan baik (acts of kindness), dengan saling memberi dan menerima. Dengan
keterampilan, ketekunan, dan bakat yang kita miliki, dapatlah kita merekatkan
masyarakat manusia secara lebih dekat, dari pribadi ke pribadi.[10]
Menurutnya
bahwa pendidikan seharusnya diarahkan kepada pembentukan kepribadian peserta
didik: "Filsuf etika yang benar dan guru keutamaan yang berguna adalah
mereka yang maksud pertama dan terakhir mereka adalah membuat pendengar dan
pembaca menjadi baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajar apa
itu keutamaan dan apa itu kejahatan serta mendengungkan ke dalam telinga kita
kehebatan nama yang satu [yakni keutamaan] dan keburukan nama yang lain
[kejahatan], melainkan juga menaburkan ke dalam hati kita, cinta akan yang
terbaik (the best) dan keinginan yang kuat untuk memilikinya, dan pada saat
yang sama kebencian terhadap yang terburuk (the worst)dan bagaimana cara
menjauhinya."
c. Pandangan Beberapa Tokoh
Teori Disiplin Mental Humanistik (Humanistik Klasik)
1) Socrates
Gagasan-gagasan
folosofisnya dan metode pengajarannya ditunjukkan untuk mempengaruhi secara
mendalam dan abadi terhadap teori dan praktek pendidikan di seluruh dunia
Barat. Prinsip dasar pendidikan socrates adalah metode dialektis/metode kritis
yang direncanakan untuk mendorong seorang yang belajar agar berfikir secara
cermat, menguji coba diri sendiri, dan untuk memperbaiki pengetahuannya.
Seorang pendidik tidak memaksa wibawanya atau memaka gagasannya dan pengetahuan
kepada peserta didik serta dituntut untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri
dengan berfikir kritis.
Tujuan pendidikan
yang benar menurutnya adalah untuk merangang penalaran yang cermat dan disiplin
mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan
standar moral yang tinggi. Dalam pendidikan socrates mengemukakan sistem atau
cara befikir yang bersifat induksi yakni menyimpan pengetahuan yang bersifat umum dengan berpangkal dari
banyak pengetahuan tentang hal yang khusus (segala sesuatu yang dibicarakan dan
cara penyelesaiannya harus bersumber pada hal-hal yang empiris. Dasar filsafat
socrates adalah pada setiap individu anak didik telah ada potensi untuk
mengetahui kebenaran dan kebaikan serta kesalahan sehingga seseorang sekalipun
kelihatannya bodoh mungkin pula berpendapat/berbuat sebaliknya. Metode socrates
ini dapat merangsang seseorang untuk
menganalisis suatu masalah dengan sebuah analogi dan berfikir kritis tentang
suatu argumen.
2) Plato
Plato
adalah seorang filssuf dan matematikawan Yunani, pendiri Akademi Platonik di
Athena (sekolah tingkat tinggi pertama di barat). Pemikiran plato banyak
dipengaruhi socrates dan ia dikenal sebagai bapak logika. Atas pengaruh dari Socrates, Plato
yakin bahwa pengetahuan itu dapat dicapai, dimiliki dengan sepenuhnya.
Pengetahuan yang sifatnya sempurna dan sebagai objek yang benar-benar nyata
dari bentuk aslinya, baginya ia akan permanen dan tidak akan pernah berubah.
Keyakinan akan identifikasi semacam ini bisa disimak dalam ajaran ide-idenya,
khususnya dalam konsep dua dunianya: dunia ideal dan dunia indrawi. Baginya,
klaim bahwa pengetahuan itu berasal dari pengalaman akal (pandangan ini dikenal
dari kelompok empirisisme), sungguh sesuatu yang janggal adanya.
Obyek-obyek pengalaman akal hanyalah
fenomena yang pada akhirnya akan berubah seiring berubah dunia indrawi. Dengan
begitu, obyek-obyek pengalaman bukanlah obyek pengetahuan yang tepat. Ada dua sumbangan terpenting Plato
bagi teori pengetahuan, yakni pertama pengetahuan itu adalah peringatan tentang
apa yang telah ada dalam pikiran, bukan mempersepsi benda-benda baru, dan kedua
adalah Teori Ide-Ide yang menekankan jalan pencarian dengan akal untuk
menemukan Ide-Ide atau yang universal di dalam budinya sendiri. Seperti yang telah dijelaskan di awal
tadi bahwa kelompok empirisisme begitu ditentang oleh Plato. Menurut Plato,
dewasa ini yang merupakan pengetahuan yang datang melalui indra, dianggap benar
dan ilmiah. Ia menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat diandalkan dan pengetahuan
sejati harus datang dari tempat lain, yakni bahwa pengetahuan itu telah ada
sebelumnya.[11] Berkaitan dengan pemahaman Plato,
Socrates pun pernah mengklaim bahwa kita tidak belajar tetapi mengingat. Pengetahuan selalu dan telah ada di dalam pikiran kita. Kita
mempunyai pengetahuan dari saat sebelum kita lahir. Berdasarkan hal
itu, Plato mempunyai
kemantapan bahwa pendidikan dan pengalaman tidak berpengaruh, pengetahuan
sejati merupakan bawaan dalam diri kita. Kita tidak harus mengandalkan indra
untuk memperoleh pengetahuan mengenai dunia. Pengetahuan sejati terdiri dari
ide-ide yang telah ada dalam pikiran, bukan ide-ide yang datang pada kita
melalui indra.
3) Aristoteles
Serupa halnya dengan Plato, Aristoteles juga
mengemukakan tentang adanya dua pengetahuan, yakni pengetahuan indrawi dan
pengetahuan akali. Pengetahuan indrawi merupakan hasil dari keadaan konkrit
sebuah benda, sedangkan pengetahuan akali merupakan hasil dari hakekat jenis
benda itu sendiri. Memang, pengetahuan indrawi mengarah kepada ilmu pengetahuan
tetapi ia sendiri bukan ilmu pengetahuan lantaran ilmu pengetahuan hanya tersdiri dari pengetahuan akali. Itu
sebabnya mengapa Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa ilmu pengetahuan
tidaklah didapat dari hal-hal yang konkrit, melainkan mengenai hal-hal yang
sifatnya universal. Namun
demikian, Aristoteles sangat menentang pendapat Plato gurunya. Ia berpendapat
bahwa dunia yang sesungguhnya adalah dunia real, yakni dunia nyata yang
bermacam-macam, bersifat relatif dan berubah-ubah.
Dunia
ide, sebagaimana anggapan Plato, hanyalah dunia abstrak yang bersifat semu,
terlepas dari pengalaman. Itu sebabnya pandangan Aristoteles lebih dikenal
sebagai paham realis (realisme). Akal tidaklah mengandung ide-ide bawaan,
melainkan mengabstraksikan ide-ide yang terdapat dalam bentuk benda-benda
berdasar hasil tangkapan indrawi. Bertolak dari gurunya, pandangannya lebih
bersifat common-sense ketimbang idealis. Baginya, pengetahuan adalah persepsi,
dunia natural adalah dunia nyata, dan persepsi dan pengalaman indrawi adalah
dasar pengetahuan ilmiah. Sebagai filsuf realis, sumbangannya terhadap ilmu
pengetahuan sangatlah besar, dan sampai sekarang masih kerap digunakan, yakni
mengenai abstraksi: aktifitas rasional dimana seseorang memperoleh pengetahuan.
Tentang abstraksi tersebut, ada tiga macam menurut Aristoteles sendiri, yakni:
abstraksi fisis/fisika, abstraksi matematis, dan abstraksi teologi/metafisis. Aristoteles meneruskan konsep-konsep dasar dari gurunya tersebut dengan menambahkan
metode-metode
yang
lebih
bervariasi.
Tambahan
yang paling utama adalah pada metode pencarian kebenaran,
jika
menurut sokrates dan plato adalah melalui
dialektika, maka menurut
Aristoteles lebih utama menggunakan observasi langsung di alam (fisika) untuk kemudian direnungkan menggunakan logika analitis
menghasilkan
kebenaran
yang lebih dalam yang disebutnya metafisik
d. Paham Tokoh Muslim yang
Identik dengan Teori Disiplin Mental Humanistik
Persentuhan peradaban Islam dengan peradaban
luar, termasuk ajaran humanistik,
ada beberapa tokoh pendidikan Muslim yang ikut mengembangkan ajaran-ajaran humanistik
yang kemudian diselaraskan dengan ajaran Islam. Di antaranya al-Farabi (abad ke-9
M), Ibn Sina (abad ke-10), Ibn Rusyd (abad ke-13)
dan Jalaluddin Rumi (abad ke-13). Mereka mendasarkan pemikirannya pada
sumber-sumber kitab suci al-Qur’an, diperkuat dengan ide-ide dari falsafah
Yunani dan Persia yang berkembang sebelumnya. Terdapat persamaan, sekaligus
terdapat banyak perbedaan antara humanisme yang difahami di Eropa dengan humanistik
yang dan dalam Islam.[12] Berikut
pemikiran al-Ghazali, salah satu pemikir pendidikan Islam yang ikut berkecimpung
dalam mengembangkan ajaran humanisme dalam Islam. Sebagaimana ajaran
Islam, beliau berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam harus bertujuan untuk
mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan bukan untuk mencari kehidupan dunia yang
semu, karena itu tujuan pendidikan menurut beliau haruslah berangkat dari
ketulusan demi mendapatkan ridho Allah Swt dan untuk menhindari penyakit hati
yang membawa manusia jauh dari ridho-Nya. Tujuan
pendidikan yang menurut beliau penting tentu akan mendapatkan balasan
yangsetimpal dari Allah Swt yaitu kehidupan Akhirat yang abadi.[13]
Pemikiran beliau dapat kita lihat dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumuddin, dalam
kitab ini ada beberapa kategori, seperti, eksistensi guru merupakan keutamaan
yang meninggalkan bagi si murid sebuah kemulian, menurut beliau pekerjaan
menjadi guru adalah perbuatan yang sangat mulia sebagaimana mulianya ilmu dalam
kehidupan manusia; murid sebagai objek ajar haruslah meniatkan tujuannya untuk
mendekatkan diri kepada Allah Swt dan selanjutkannya agar memuliakan guru,
merasa setubuh dengan guru-gurunya lainnya sehingga menghilangkan starata
sosial yang menumbuhkan toleansi yang mulia. Menjauhkan diri dari mempelajari
pikiran-pikiran(mazhab) yang dapat membawa kepada kekacaun dalam berpikir; kurikulum
sebagai aturan pendidikan dianjurkan untuk tidak mempelajari ilmu sihir, nujum,
dan ilmu perdukunan, hal tersebut dapat menimbulkan sikap syirik dan takabbur,
tetapi ilmu yangharus dituntut adalah ilmu yang tentang ketauhidan dan
ilmu-ilmu agama lainnya sebagaimana jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada
Allah Swt, kemudian beliau mengkaterikan ilmu menjadi dua kategori yaitu
sebagaimana beliau mengkategorikannnya menjadi ilmu wajib Ain dan ilmu yang wajib
kifayah.[14] Metode
Pengajaran, beliau menekankan pada metode kharismatik guru sebagai percontohan
bagi murid karena kesuksesan dalam proses belajar itu dikarenakan kemahiran dan
kepintaran guru dalam mengajarkan ilmu-ilmu melalui metode yang tepat sasaran.[15]
Dari pemikiran beliau diatas ada beberapa penekanan dalam nenentukan sikap
dalam mempelajari ilmu pengetahuan, yang diantaranya adalah penekanan ketika
menumbuhkan jiwa yang ikhlas sehingga manusia dapat mendekatkan diri kepada
Allah juga Allah Swt senantiada ridho disetiap pekerjaan, kristalisasi dari
pemikiran beliau adalah identik dengan aliran sufisme
e. Kelebihan dan Kelemahan
Teori Disiplin Mental Humanistik
1) Kelebihan Teori Disiplin
Mental Humanistik
d) konsepnya
yang menyeluruh tentang manusia, pandangan dan perhatian terhadap isi
pembelajaran dan mempunyai dasar-dasar filosofis yang relatif lebih lengkap
dibandingkan teori lainnya.
e) Cocok
diterapkan pada materi-materi yang bertujuan untuk pembentukan kepribadian,
retorika dan sebagainya.
f) Suasana
kelas lebih bergairah karena guru hanya bersifat sebagai pengarah bukan
pengajar.
2) Kelemahan Teori Disiplin
Mental Humanistik
a)
Teori ini susah untuk diterjemahkan ke dalam
langkah-langkah praktis.
b)
Progres yang dialami seorang siswa
dengan siswa lainnya akan jauh berbeda, karena siswa tidak diajar akan tetapi
hanya diarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan
f. Penerapan Teori Disiplin
Mental Humanistik dalam Pembelajaran
Praktek
ajaran humanisme
tetap terlihat di sekolah-sekolah khususnya di Pesantren. Pesantren-pesantren,
bahkan perguruan tinggi banyak mengkaji pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam
literatur-literatur klasik, seolah-olah merupakan sebuah kebenaran persisi seperti
yang ajarkan oleh paham humanistik. Meski
demikian, ajaran-ajaran Humanisme yang diterapkan di sekolah-sekolah dan
perguruan tinggi tidak sepenuhnya sama dengan Humanisme yang kita kaji. Meski
di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi mempelajari literatur-literatur klasik
sebagai sumber kebenaran, akan tetapi guru tidak hanya berfungsi sebagai
pengarah akan tetapi juga sebagai pemberi informasi. Tampaknya di
Indonesia, prinsip pengetahuan telah dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir
tidak dianut dan diterapkan. Manusia bagaikan wadah kosong yang akan berubah
corak sesuai dengan pengaruh lingkungan. Paham murni humanisme
murni untuk diterapkan di sekolah-sekolah peluangnya sangat kecil. Namun dengan
modifikasi dan kombinasi dengan ajaran lain, paham Humanisme sangat mungkin untuk
diterapkan.
3.
Teori Disiplin Mental Naturalis/Aktualisasi Diri
a.
Pengertian Teori Disiplin Mental Naturalis
Naturalisme berasal
dari kata natura] yang berarti alami dan isme
berarti paham. Aliran ini dipelopori oleh J.J.Rousseau. Aliran ini menjelaskan bahwasanya segala sesuatu yang alamiah (pembawaan)
cenderung baik sehingga pendidikan internal adalah pendidikan yang paling baik
sedangkan pendidikan eksternal memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap
perkembangan anak. Naturalisme merupakan aliran yang menyakini adanya
pembawaan dan juga milieu (lingkungan). Namun demikian, ada dua pandangan besar
mengenai hal ini. Pertama disampaikan oleh
Rousseau yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia baik, namun jika ada yang
jahat, itu karena terpengaruh oleh lingkungannya. Kedua, disampaikan oleh
Mensius yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia itu jahat. Ia menjadi
manusia yang baik karena bergaul dengan lingkungannya. Dua pendapat ini jelas memiliki
perbedaan yang sangat mendasar. Satu sisi memandang sisi jahat manusia
bersumber dari lingkungan, sementara pendapat lain menyatakan bahwa sisi jahat
itu sendiri yang justru berada pada diri manusia. Namun, jika memperhatikan dua
pendapat ini memiliki sisi kebenaran yang sama jika ditilik dari sudut genetis. Jika melihat faktor ini, manusia yang secara genetis tidak
baik, maka ia akan menjadi manusia yang seperti ini, begitupun sebaliknya.
Menurut paham naturalisme paling tidak ada lima tujuan pendidikan, kelima
pendapat itu disampaikan oleh Spencer yang terdiri dari pemeliharaan diri, mengamankan kebutuhan hidup, meningkatkan anak didik, memelihara hubungan sosial dan
politik,
serta menikmati
waktu luang.
Dari lima
tujuan pendidikan ini, jelas bahwa aliran naturalisme ini mementingkan manfaat
pendidikan dengan menjadikan pemeliharaan diri menjadi faktor utama yang
kemudian disusul dengan kebutuhan hidup. Kedua faktor tersebut akan tercapai
jika faktor faktor ketiga secara maksimal dilaksanakan. Agar maksimal maka
faktor keempat dan kelima yang kemudian menjadi perhatian dalam melakukan
pendidikan. Selain itu menurut Spencer ada delapan prinsip dalam proses pendidikan
beraliran naturalisme.
Delapan
prinsip tersebut adalah:[16]
1)
Pendidikan
harus menyesuaikan diri dengan alam
2)
Proses
pendidikan harus menyenangkan bagi anak didik
3)
Pendidik
harus berdasarkan spontanitas dari aktivitas anak
4)
Memperbanyak
ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dalam pendidikan
5)
Pendidikan
dimaksudkan untuk membantu perkembangan fisik, sekaligus otak
6)
Praktik
mengajar adalah seni menunda
7)
Metode
intruksi dalam mendidik menggunakan cara induktif
8)
Hukuman
dijatuhkan sebagai konsekuensi alam akibat melakukan kesalahan. Kalaupun
dilakukan hukuman, hal itu harus dilakukan secara sistematik.
Karakter khas
yang terlihat dari aliran naturalisme ini, adalah bagaimana anak berkembang
secara wajar. Hal ini dapat dilihat pada poin nomor tiga yang menyatakan bahwa
pendidikan harus berjalan spontan. Akan tetapi, spontanitas itu bukan berarti tidak
bermutu. Justru menurut naturalisme, spontanitas merupakan sarana untuk
mendapat pengetahuan baik berupa fisik maupun otak seperti yang tersebut pada
poin empat dan lima, Jadi jelaslah, bahwa naturalisme menghendaki bahwa
pendidikan yang berjalan secara wajar tanpa intervensi yang berlebihan sehingga
membuat anak tersebut justru merasa terancam. Hal ini dilakukan atas dasar,
bahwa anak memiliki potensi insaniyah yang memungkinkan untuk dapat berkembang
secara alamiah.
Seorang anak memiliki kebebasan penuh untuk mengekspresikan diri menurut kodrat yang
baik. Seorang pendidik tidak boleh melarang, memberi hukuman atau
hadiah, menuntut ketaatan, ketekunan, menanamkan kebiasaan dan sebagainya kepada peserta
didik. Alamlah yang memimpin dan memerintah anak didik. Dalam pendidikan seorang anak hanya boleh mendapat hukuman
dari alam. Aliran ini menggunakan pendidikan tak disengaja karena ia membiarkan
anak berkembang sendiri tanpa pengaruh. Pendidikan tak punya kuasa, alamlah
yang berkuasa.
Pembawaan ini disebut juga bakat. Bakat adalah kemampuan khusus
yang menonjol diantara berbagai jenis yang
dimiliki seseorang. Bakat merupakan warisan dari orang
tua, dan selebihnya berasal dari nenek-kakek dan moyangnya dari kedua belah pihak (ibu atau bapak). Pembawaan ini berupa potensi-potensi yang
tersimpan dalam diri anak. Berkembang atau tidaknya potensi ini masih
bergantung pada faktor lain. Tetapi tanpa adanya potensi ini tidak mungkin
terjadi perkembangan.
b.
Ciri-Ciri Teori Disiplin Mental Naturalisme
1) Manusia adalah baik dan
aktif
2) Berpusat pada perasaan
dan kemanusiaan
3) Belajar adalah
pengkondisian lingkungan
4) Proses aktualisasi
c.
Pandangan Beberapa Tokoh Teori Disiplin Mental Naturalisme
Tokoh aliran
ini adalah J.J Rousseau. Ia adalah filosof prancis yang hidup tahun 1712-1778.
Naturalisme berasal dari kata “nature” artinya alam atau apa yang dibawa sejak
lahir. Hampir senada dengan aliran nativisme, maka aliran ini berpendapat bahwa
hakikatnya semua anak sejak dilahirkan adalah baik. Bagaimana hasil
perkembangannya sangat ditentukan oleh pendidikan yang diterimanya atu yang
mempengaruhinya. Jika pengaruh atau pendidikan itu baik, maka akan menjadi
baiklah ia, akan tetapi jika pengaruh itu jelek, maka akan jelek pula hasilnya. Seperti dikatakan oleh tokoh aliran
ini, “Semua anak adalah baik pada waktu datang dari tangan Sang Pencipta,
tetapi semua jadi rusak ditangan manusia”. Oleh karena itu sebagai pendidik
Rousseau mengajukan pendidikan alam, artinya, anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang
sendiri menurut alamnya manusia atau masyarakat jangan banyak mencampurinya.[17] Disiplin mental naturalisme
memiliki tiga prinsip dalam proses pembelajaran, yaitu:
1)
Anak didik
belajar melalui pengalamannya sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara
pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan didalam dirinya secara
alami.
2)
Pendidik
hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan
sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu
mendorong keberanian anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap
terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik.
Tanggung jawab belajar terletak pada diri anak didik sendiri.
3)
Program
pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat dengan
menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak
didik. Anak didik secara bebas diberi kesempatan untuk menciptakan lingkungan
belajarnya sendiri sesuai dengan minat dan perhatiannya.
Dengan
demikian, disiplin
mental naturalisme
menitik beratkan pada strategi pembelajaran yang bersifat paedosentris. Artinya
faktor kemampuan individu anak didik menjadi pusat kegiatan proses
belajar-mengajar.
d.
Paham Tokoh Muslim yang Identik dengan Teori Naturalis
Tokoh aliran ini adalah J.J. Rousseau seorang filosof
Prancis yang hidup tahun 1712-1778. Naturalisme mempunyai pandangan bahwa
setiap anak yang lahir di dunia mempunyai
pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan. Natiralisme memiliki tiga prinsip tentang proses pembelajaran yaitu:
pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan. Natiralisme memiliki tiga prinsip tentang proses pembelajaran yaitu:
1)
Anak didik
belajar sendiri melalui pengalaman sendiri, kemudian terjadi interaksi antara
pengalaman.
2)
Pendidikan
hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan, tanggung jawab terletak
pada diri anak didik sendiri.
3)
Progam pendidikan
di sekolah harus disesusaikan dengan minat dan bakat anak didik. Anak didik
secara babas diberi kesempatan untuk menciptakan lingkungan belajarnya sesuai
dengan minat dan perhatiannya
Dengan demikian, aliran naturalisme menitikberatkan pada strategi
pembalajaran yang bersifat paedosentris. Dalam hal ini pandangan islam mempunyai pandangannya
sendiri terhadap aliran naturalisme. Dalam ajaran islam pada hakikatnya manusia
sebagai kholifah di Bumi ini manusia mempunyai potensi untuk memahami, menyadari
dan kemudian merencanakan pemecahan problem hidup dan kehidupannya. Secara
definitif naturalisme berasal dari kata “nature.” Kadang pendefinisikan
“nature” hanya dalam makna dunia material saja, sesuatu selain fisik secara
otomatis menjadi supranatural, tetapi dalam realita, alam terdiri dari alam material
dan alam spiritual, masing-masing dengan hukumnya sendiri. Era Pencerahan,
misalnya, memahami alam bukan sebagai keberadaan benda-benda fisik tetapi
sebagai asal dan fondasi kebenaran. Ia tidak memperlawankan material dengan
spiritual, istilah itu mencakup bukan hanya alam fisik tetapi juga alam
intelektual dan moral.
Salah satu
ciri yang paling menakjubkan dari alam semesta adalah keteraturan. Benak
manusia sejak dulu menangkap keteraturan ini. Terbit dan tenggelamnya Matahari,
peredaran planet-planet dan susunan bintang-bintang yang bergeser teratur dari
malam ke malam sejak pertama kali manusia menyadari keberadaannya di dalam alam
semesta, hanya merupakan contoh-contoh sederhana. Ilmu pengetahuan itu sendiri
hanya menjadi mungkin karena keteraturan tersebut yang kemudian dibahasakan
lewat hukum-hukum matematika. Tugas ilmu pengetahuan umumnya dapat dikatakan
sebagai menelaah, mengkaji, menghubungkan semua keteraturan yang teramati.
Islam
memandang aliran naruralisme adalah Aliran memandang bahwa manusia diciptakan
agar dapat belajar dan berpikir untuk kembali kepada penciptaNya, dalam hal ini
implikasi di dunia nyata bahwa proses pendidikan dilakukan dengan berafiliasi
kepada prinsip keTuhanan.
Implikasi di
bidang pendidikan terhadap aliran filsafat naturalisme memandang bahwa sekolah
merupakan hal utama yang akan mengembangkan proses belajar tiap peserta didik
untuk dapat menemukan dan mengembangkan kepribadiannya dengan memperhatikan
karakteristik dan perkembangan alam yang ada pada drinya sendiri. Naturalisme berpandangan bahwa
kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta fisik ini, bukan kenyataan
spiritual atau supernatural. Kontribusi naturalisme dalam pendidikan Islam adalah guru paling
alamiah dari seorang anak adalah kedua orang tuanya, pendidikan disesuaikan dengan
perkembangan alam,
alam
diperkenalkan sebagai objek studi secara langsung, pendidikan berasal dari alam dan
barang, dan mengembangkan akal dengan observasi.
e.
Kelebihan dan Kelemahan Teori Disiplin Mental Naturalis
1) Kelebihan Teori Disiplin
Mental Naturalis adalah individu
bukan saja mempunyai potensi dan kemampuan untuk berbuat atau melakukan
berbagai tugas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk belajar dan berkembang
sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang
dimilikinya pendidik atau guru perlu menciptakan situasi yang permisif yang
jelas. Melalui situasi demikian, ia dapat belajar sendiri dan mencapai
perkembangan secara optimal.
2) Kelemahan Teori Disiplin Mental Naturalis adalah
4.
Teori Appersepsi/Herbartisme
a. Pengertian Teori Appersepsi/Herbartisme
Sebagai pelopor aliran Herbartisme, seorang psikolog Jerman bernama Herbart mengemukakan teori Vorstellungen (makna tanggapan-tanggapan yang tersimpan dalam kesadaran). Menurut teori ini belajar
adalah mengusahakan adanya tanggapan-tanggapan sebanyak-banyaknya dan sejelas-jelasnya pada kesadaran individu. Implementasi dari teori
ini dapat dilihat melalui pemilihan materi
pelajaran yang sederhana, penting tetapi menarik dan diberikan sesering mungkin; serta adanya apersepsi diawal pembelajaran dan refleksi diakhir
pembelajaran.
b. Ciri-Ciri Teori Appersepsi/Herbartisme
1) Dikembangkan sebagai
psikologi belajar non eksperimental.
2) Filosofis/spekulatif
3) Introsfektif (dianggap
tidak ilmiah)
c. Pandangan Tokoh Teori
Appersepsi/Herbartisme
Pandangan Herbart adalah teori tahap-tahap perkembangan budaya yang menyatakan
bahwa ras manusia berkembang melalui tahap perkembangan budaya tertentu, dan
tahap-tahap tersebut akan di ulangi dalam perkembangan individu; Seorang manusia yang baik
memerintahkan dirinya sendiri, sifat dasar manusia terdiri dari dua factor,
yaitu diri yang memerintah dan diri yang menolak. Mendidik orang muda agar
dapat berbuat baik, bebas, dan mantap, terwujud apabila sifat dasarnya mau
melakukan perbuatan tersebut; Jika dibekali satu perbuatan khusus untuk mereaksi
terhadap hal-hal yang ada terhadap lingkungannya.
Herbartisme disebut juga teori herbartian atau apperception, tiga tahap pembelajaran menurut pandangan apperception yakni penerimaan rangsangan, ingatan -
menghasilkan kembali apa yang diketahui, pemahaman - hasil pemikiran konsep dan
generalisasi.
Johan
Friedrich Herbart mengembangkan psikologi belajar modern yang sistematis, yang
lahir dari suatu teori tabula rasa tentang jiwa atau pikiran (mind). Herbart
adalah seorang psikolog yang juga filsuf, dan juga seorang guru yang ahli,
berasal dari Jerman. Pemikirannya yang mengagumkan dikembangkannya pada
masalah-masalah pendidikan. Katanya, moralitas adalah inti objektivitas
pendidikan. Ia ingin membuat anak-anak menjadi baik. Dari sanalah ia
mengembangkan psikologi guna mencapai maksudnya. Pada permulaan tahun-tahun
abad ke-20, saat teori Herbartianisme mendominasi pendidikan (terutama di
Amerika Serikat), behaviorisme muncul dan menentangnya. Dengan demikian, jika
orang ingin memahami atmosfir psikologi pada sekolah-sekolah sekarang, maka
orang perlu mengetahui dan mengerti perkembangan, prinsip, dan implikasi teori
apersepsi.
Herbart mengekalkan dualisme jiwa-badan yang umum pada saat itu. Hal ini
merupakan kesejajaran psikofisik, di mana aspek psikis-jiwa, pikiran, memainkan
peranan besar, terutama dalam proses belajar. Kesejajaran (parallelism) adalah
teori jiwa dan badan menurut setiap variasi di dalam proses kesadaran mental,
ada keseiringan (concomitant) proses badan atau neurologis. Namun tidak ada
kausalitas hubungan antara jiwa dan badan, pikiran seseorang tidak mempengaruhi
badannya; juga badan seseorang tidak mempengaruhi jiwanya. Ini menurut konsep
dari teori ini. Dengan menggunakan konsep presentasi, apersepsi keadaan mental,
dan banyaknya aperseptif, Herbart telah mengembangkan pasivitas kenetralan
pikiran atau jiwa ke dalam suatu teori belajar mengajar secara sistematis. Ia
berpikir bahwa pikiran atau jiwa itu tidak mempunyai bakat ataupun kecakapan
alami dari pembawaan, baik untuk menerima maupun menghasilkan gagasan, dan
bahkan tidak mempunyai penyusunan jarak jauh terhadap persepsi, berpikir,
kemauan, atau kegiatan yang bersandar di dalamnya.
Ia menganggap bahwa pikiran tidak lebih sebagai suatu medan atau tempat
pertempuran (battle-ground) dan gudang ide. Katanya lagi, ide mempunyai suatu
kualitas yang aktif. Ide-ide dapat membawa kehidupannya sendiri dalam pikiran
yang pasif. Jiwa atau pikiran adalah suatu kumpulan (potensi), bukan kecakapan,
tetapi ide-ide dan kondisi mental. Di dalam metafisikanya, Herbart menganggap
setiap orang itu merupakan satu kesatuan pikiran atau jiwa yang merupakan
bagian dari realitas yang asasi, dan maka dari itu, ia ada, terutama untuk
pengalaman. Sebagaimana pikiran atau jiwa itu tidak mempunyai ruang, dan memang
sebenarnya ia tidak mempunyai ruang, atau sifat yang sementara. Jiwa tidak
mempunyai bakat pembawaan alamiah, juga tidak mempunyai kecakapan apa-apa, dan
tidak pula mempunyai maksud menerima atau memproduksi. Intinya, tidak ada
konsep, perasaan, juga keinginan. Di dalam jiwa tidak ada tabula rasa, berarti
ia mempunyai reseptivitas keunikannya sendiri. Ambisi Herbart adalah membangun
suatu ilmu pikiran atau jiwa manusia yang paralel dengan ilmu-ilmu biologi dan
fisika. Ia berpikir bahwa ciri-ciri atau karakter suatu jiwa atau pikiran itu
terdiri atas sesusunan ide-ide, yang sangat mirip dengan elektron pada konsep
fisika modern.
Oleh karena itu, yang
namanya jiwa adalah kumpulan isi-isi sebagai hasil dari ide-ide tertentu yang
disajikan manusia. Karena ia berpikir bahwa psikologi sebagai kimia mental,
maka ia merasakan bahwa peran utama psikologi adalah mempelajari berbagai
ikatan dan pencampuran (algamation) ide-ide atau kondisi mental di dalam
pikiran. Penemuan prinsip penggabungan dan pengikatan kembali ide-ide seperti
unsur-unsur kimia adalah tujuan Herbart dalam penelitian psikologi. Meskipun
Herbart merasakan bahwa psikologinya adalah ilmiah. Memang ia menolak
eksperimental dan penggunaan data psikologis, yang sudah menjadi dasar landasan
psikologi behavioristik abad ke-20. Menurutnya, berpikir dan observasi merupakan metode
yang sesuai untuk penemuan psikologis. Lebih lanjut, pengamatan yang dilakukan
untuk jiwa atau pikiran adalah pengamatan diri atau introspeksi. Dengan melihat
ke dalam pikirannya sendiri, Herbart berpikir bahwa kimia mental-nya dapat
dijelaskan. Ia merasakan bahwa ilmu seperti fisika adalah eksperimental, namun
berkesuaian dengan itu, ilmu untuk psikologi harus metafisik dan introspektif.
Demikianlah teori apersepsi/herbart ternyata bersifat introspekstif dan metafisik,
dan bukannya eksperimental. Berikut dilanjutkan dengan mengetahui cara bekerjanya
teori apersepsi lima tahap
belajar menurut Herbartian, Empat tahap belajar dari Herbart, yakni: kejelasan
(clearness), asosiasi, sistem, dan metode, dikembangkan menjadi lima tahap oleh
para pengikutnya,
kemudian persiapan dan penyajian (asosiasi) menjadi perbandingan dan abstraksi
sistem menjadi generalisasi mentode hingga aplikasi.
d. Paham Tokoh Muslim yang
Identik dengan Teori Appersepsi
Dalam setiap pembahasan materi pelajaran, Ibn Sina selalu membicarakan
tentang cara mengajarkan kepada anak didik. Berdasarkan pertimbangan
psikologisnya, Ibn Sina berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak
akan dapat dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja,
melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan
psikologisnya. Penyampaian materi pelajaran pada anak menurutnya harus
disesuaikan dengan sifat dari materi pelajaran tersebut, sehingga antara metode
dengan materi yang diajarkan tidak akan kehilangan daya relevansinya. Metode
pengajaran yang ditawarkan Ibn Sina antara lain metode talqin, demonstrasi,
pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, dan penugasan.[18]
e. Kelebihan dan Kelemahan
Teori Appersepsi/Herbartisme
1) Kelebihan Teori
Appersepsi/Herbartisme adalah peserta didik dapat menemukan potensi yang ada pada dirinya
dengan adanya aktualisasi diri serta pengkondisian lingkungan yang nyaman
sehingga peserta didik akan mampu melahirkan kreativitasnya.
2) Kelemahan Teori Appersepsi/Herbartisme
adalah peserta
didik merasa tertekan dengan adanya dorongan atau banyaknya stimulus yang
diberikan pendidik secara terus menerus yang menginginkan agar peserta
didik memiliki pemahaman secara otomatis.
f. Penerapan Teori Appersepsi/Herbartisme
dalam Pembelajaran
Dalam praktek pembelajaran, adanya
appersepsi awal serta refleksi pada akhir pembelajaran merupakan
implementasi/penerapan teori ini, pemilihan materi pembelajaran yang sederhana,
menarik, dan diberikan sesering mungkin.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahsan di atas, maka kesimpulan pada
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman
ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen. Berdasarkan
unsur historisnya bahwa teori belajar klasik berkembang sebelum abad ke 20 yang
dikenal dengan teori belajar disiplin mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya
berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad
ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya,
terutama dalam spelaksanaan
pengajaran disekolah-sekolah. Teori ini menganggap bahwa secara psikologi
individu memiliki kekuatan, kemampuan atau potensi-potensi tertentu. Belajar
adalah pengalaman dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi tersebut.
2. Beberapa teori belajar
sebelum abad ke-20 adalah teori disiplin mental (Socrates, Plato, Aristoteles, dan lain sebagainya), teori disiplin mental naturalis (natural unfoldment) yang dikembangkan oleh Jean J. Roussseau (1712-1778),
Swiss Heinrich Pestalozzi (1746-1827) seorang ahli pendidik, dan dari Jerman Friedrich Froebel (1782-1852) adalah
seorang ahli filsafat, pedidik dan penemu gerakan “Kindegarten”, teori appersepsi
(herbartisme)
oleh Johan Friedrich
Herbart 1776-1841. Ilmuwan Islam diantaranya Imam Al Ghazali, Ibn
Khaldun, Ibnu Rusyd, dan lain sebagainya.
3. Teori belajar ini berasal dari psikologi daya dan menurut
teori ini bahwa individu atau anak memiliki sejumlah daya mental seperti
pikiran, ingatan, perhatian, kemampuan, keputusan, observasi, tanggapan dan
lain sebagainya. Masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui
latihan-latihan dan manusia
hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya
dirasakan ketika dipergunakan untuk sesuatu hal. Konsep Ibn
Jam’ah tentang metode pembelajaran banyak ditekankan pada hafalan ketimbang
dengan metode lain. Sebagaimana dikatakan bahwa hafalan sangat penting dalam
proses pembelajarannya, sebab ilmu didapat bukan dari tulisan di buku,
melainkan dengan pengulangan secara terus-menerus.
4. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari
sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama
para pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya yaitu
membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai
manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam
diri mereka. Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan
bermuara pada manusia itu sendiri.
5. Teori naturalitik
menjelaskan bahwasanya segala sesuatu yang alamiah (pembawaan) cenderung baik
sehingga pendidikan internal adalah pendidikan yang paling baik sedangkan
pendidikan eksternal memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap perkembangan
anak. Naturalisme merupakan aliran yang menyakini adanya pembawaan
dan juga milieu (lingkungan). Pandangan
Herbart adalah teori tahap-tahap perkembangan budaya yang menyatakan bahwa ras
manusia berkembang melalui tahap perkembangan budaya tertentu, dan tahap-tahap
tersebut akan di ulangi dalam perkembangan individu.
B.
Saran
Dalam
pembuatan makalah ini penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan
makalah ini, maka dari itu penulis berharap kritik yang membangun untuk
penyempurnaan penulisan di masa mendatang.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah Idi,
Jalaluddin. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama. 1997.
Budiningsih,Asri. Belajar dan Pembelajara.
Jakarta: Rieneka Cipa. 2005.
fidburhanuddin.2013.PenerapanAliranNaturalismedalam Pembelajaran.http://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/21/penerapan-aliran-naturalisme-dalam-pembelajaran-3/
Maksum, Ali. Pengantar Filsafat dari Masa
Klasik hingga postmodernisme. Jogjakarta: Ar-ruzz Media. 2011.
Muhmidayeli. Filsafat Pendidikan. Bandung: Refika Aditama 2011.
Munstansyir, Rizal. Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Putaka Pelajar. 2003.
Nata, Abuddin. Pemikiran Para Tokoh
Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2003.
[3]
Agus N. Cahyo, Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar
Mengajar Teraktual dan Terpopuler, (Jogyakarta: Divaa Press, 2013),
h. 17
[4] Ibid, h. 17
[5] Ali maksum, Pengantar filsafat dari Masa Klasik hingga Postmodernisme,
(Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2011), h. 355
[6] Irsyad
Zamjani, Wacana Pendidikan Al-Ghazali: Jurnal Studi Agama dan Demokrasi,
(Surabaya: Risalah Gusti, 2002), h. 215-216.
[13] Abuddin
Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2003), h 74-75
[16] fidburhanuddin. 2013.Penerapan
Aliran Naturalisme dalam Pembelajaran.http://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/21/penerapan-aliran-naturalisme-dalam-pembelajaran-3/
[18] Abuddin
Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2003), h. 74-75