Senin, 01 Januari 2018

Teori Belajar Klasik



Tugas: Makalah

TEORI-TEORI KLASIK DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN









Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Teori Belajar dan Pembelajaran PAI
Dosen Pengampu: Dr. Imelda Wahyuni, S.S.,M.Pd.I


OLEH

WA ODE SYAMSINAR NADIA
NIM: 1604020202023


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
KENDARI
2017



KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa tercurah kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, nikmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Teori-Teori Klasik dalam Belajar dan Pembelajaran” sesuai dengan waktu yang diharapkan. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran PAI.
Makalah ini membahas tentang teori-teori klasik dalam belajar dan pembelajaran yang mencakup Teori Disiplin Mental Theistik, Teori Humanistik, Teori Naturalis, Teori Apersepsi/Herbartisme.  Selain itu, untuk memperdalam pengkajian teori-teori klasik dalam belajar dan pembelajaran maka penulis memberikan penjelasan beberapa pendapat para tokoh Barat dan disandingkan dengan tokoh Islam.  Informasi yang dihasilkan dalam makalah ini menjadi referansi penting dalam memahami teori-teori klasik dalam belajar dan pembelajaran secara parsial dan komprehensif.
Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak merujuk referensi dari buku Filsafat Pendidikan. Referensi lain diperoleh dari informasi yang berkembang dari diskusi para pakar tentang teori-teori belajar di media cetak dan elektronik.  Selain itu, untuk memperkaya khasanah teori belajar, penulis juga banyak menerima masukan dari rekan-rekan mahasiswa S2 Pendidikan Agama Islam IAIN Kendari. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Selain itu, penulis berharap makalah ini dapat memberikan informasi bagi pembaca sehingga bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua terutama tentang Teori-Teori Klasik dalam Belajar dan Pembelajaran.
Kendari, 17 April 2017
Penulis,
Wa Ode Syamsinar Nadia

DAFTAR ISI
                                                                                                                                   
Halaman Sampul ........................................................................................           i
Kata Pengantar...........................................................................................          ii
Daftar Isi ....................................................................................................          iii
BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................           1
A.      Latar Belakang................................................................................          1
B.      Rumusan Masalah ...................................................................
C.      Tujuan dan Manfaat Penulisan.......................................................         2
BAB II. PEMBAHASAN.........................................................................         
A.  Konsep Dasar Teori Klaik dalam Belajar dan Pembelajaran..........          3
B.  Teori-Teori Klasik dalam Belajar dan Pembelajaran.......................          4
BAB III. PENUTUP..................................................................................              
A.    Kesimpulan  ...................................................................................           23
B.     Saran  .............................................................................................           23
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….        24
 




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Guru adalah teknisi pengajaran yang berurusan dengan produk-produk pembelajaran dan guru dapat menggunakan prosedur yang telah dibuat oleh teknologi pembelajaran tanpa mementingkan intuisi serta  tidak perlu lagi melakukan validasi empiris. Hal ini dikarenakan prosedur yang dibuat telah diawali oleh intuisi dan telah diuji secara empiris.  Dalam menyusun prosedur tersebut teknologi pembelajaran telah menggunakan teori/prinsip yang dihasilkan oleh ilmuwan, dalam menghasilkan teori, ilmuwan telah melakukan pengujian interaktif dan utuh. Dengan adanya teori belajar dan pembelajaran guru bisa memanfaatkan teori tersebut untuk menjadi guru yang professional, misalnya dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang tepat, memilih strategi yang sesuai, memberikan bimbingan atau konseling, memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik, menciptakan iklim belajar yang kondusif, berinteraksi dengan siswa secara tepat dan memberi penilaian secara adil terhadap hasil pembelajaran.
Seorang guru profesional tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu dikembangkan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi sebagai pengajar. Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru dengan argumen bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori pembelajaran.[1] Teori pembelajaran yang sudah ada selama ini, hanya terfokus pada kepentingan teoritis semata. Sebagai contoh, pada saat membahas tentang teori perkembangan, seorang anak tidak diajarkan pengaruhnya terhadap tantangan sosial dan bagaimana pengalaman nyata yang nantinya akan dialami anak ketika berada di masyarakat. Masih banyak contoh-contoh lain, bagaimana sebuah teori belajar dan pembelajaran tidak menyentuh aspek sosial dari siswa, dan hal ini merupakan bentuk pembodohan secara intelektual dan tidak memiliki tanggung jawab moral.
Berdasarkan permasalahan di atas, kita menyadari bahwa sebuah teori belajar dan pembelajaran sebaiknya juga memiliki unsur praktek untuk membimbing seseorang bagaimana caranya ia memperoleh pengetahuan dan keterampilan, pandangan hidup, serta pengetahuan akan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Oleh sebab itu, mari kita susun beberapa teorema yang memungkinkan akan membawa kita kepada sebuah teori belajar dan pembelajaran yang baik agar guru memahaminya dengan komprehensif. Ada lima perspektif utama dalam teori belajar, yaitu behavioristik, kognitivistik, konstruktivistik, humanistik, sibernetik dimana dasarnya teori pertama dilengkapi oleh teori kedua dan seterusnya, sehingga ada varian, gagasan utama, ataupun tokoh yang tidak dapat dimasukkan dengan jelas termasuk yang  mana, atau bahkan menjadi teori tersendiri.
Hal ini tidak perlu kita perdebatkan dan yang lebih penting untuk kita pahami adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada kawasan tertentu, dan teori mana yang sesuai untuk kawasan lainnya.  Pemahaman seperti ini, sangat penting untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam penulisan makalah ini, akan mengulas lebih jauh terkait dengan teori-teori klasik dalam belajar dan pembelajaran sebagai dasar dalam teori belajar dan pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan kajian teoritis dalam mengasumsi konsep dasar dari teori tersebut dan unsur historisnya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1.      Bagaimana konsep dasar teori klasik dalam belajar dan pembelajaran?
2.      Bagaimana teori-teori klasik dalam belajar dan pembelajaran?

A.    Tujuan dan Manfaat Penulisan
1.      Tujuan Penulisan
a.       Memahami konsep daar teori klasik dalam belajar dan pembelajaran.
b.      Memahami secara komprehensif teori-teori klasik dalam belajar dan pembelajaran
2.      Manfaat Penulisan
a.       Manfaat Praktis
1)      Untuk mengidentifikasi perbedaan yang signifikan terhadap teori-teori klasik dalam belajar dan pembelajaran.
2)      Menjadi bahan acuan bagi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran.
b.      Manfaat Teoritis
Menambah khasanah ilmu pendidikan terkait dengan teori-teori klasik dalam belajar dan pembelajaran.













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar Teori Klasik dalam Belajar dan Pembelajaran
1.    Defenisi Teori Klasik dalam Belajar dan Pembelajaran
Teori adalah serangkaian konsep, defenisi, dan preposisi yang saling berkaitan dan bertujuan untuk memberikan gambaran yang sistematis tentang suatu fenomena pada umumnya. Penggunaan teori digunakan dalam menelaah suatu masalah atau fenomena yang terjadi sehingga fenomena tersebut dapat diterangkan secara eksplisit dan sistematis. Jonathan H. Turner mengemukakan bahwa teori adalah sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi.[2] Berdasarkan pendapat tersebut dapat diasumsikan bahwa teori merupakan konsep yang sistematis dalam menelaah dan mengembangkan ide terhadap suatu peristiwa. Sedangkan defenisi belajar menurut Winkel adalah semua aktivitas mental atau  psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.[3] Gagne di dalam bukunya The Conditions of Learning mengatakan bahwa pengertian belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu.[4] Perubahan yang terjadi dimaksud disebabkan adanya pengalaman dan latihan-latihan bukan berupa akibat refleks atau naluri. Teori  belajar  merupakan  cara-cara yang digunakan untuk memahami tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Oleh karena itu, dapat diidentifikasi bahwa teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen.
2.    Sejarah Teori Belajar Klasik
Berdasarkan unsur historisnya bahwa teori belajar klasik berkembang sebelum abad ke 20 yang dikenal dengan teori belajar disiplin mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam pelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah. Teori ini menganggap bahwa secara psikologi individu memiliki kekuatan, kemampuan atau potensi-potensi tertentu. Belajar adalah pengalaman dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi tersebut.  Teori belajar disiplin mental, merupakan salah satu pandangan yang mula-mula memberikan definisi tentang belajar yang disusun oleh filsuf Yunani bernama Plato. Pandangan filsafatnya yaitu tentang idealisme yang melukiskan pikiran dan jiwa yang bersifat dasar bagi segala sesuatu yang ada. Idealisme hanyalah ide murni yang ada di dalam fikiran karena pengetahuan seseorang berasal dari ide yang ada sejak kelahirannya. Belajar dilukiskan sebegai pengembangan oleh fikiran yang bersifat keturunan. Kepercayaan ini kemudian dikenal sebagai konsep “disiplin mental”.
Menurut Jean Jacques Rosseon, anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi kesempatan untuk mengembangkan atau mengaktualkan potensi tersebut.[5] Sedangkan menurut psikologi atau faculty psychology adalah individu memiliki sejumlah daya-daya seperti daya mengenal, mengingat, menganggap, mengkhayal, berfikir dan sebagainya. Daya itu dapat dikembangkan melalui latihan dalam bentuk ulangan, apabila anak dilatih banyak mengulang-ulang, menghafal sesuatu maka ia akan mengingat terus akan hal itu. Istilah teori belajar tersebut muncul setelah terjadi kesulitan ketika akan menjelaskan proses belajar secara  menyeluruh. Berawal dari kesulitan tersebut munculah beberapa persepsi berbeda dari para psikolog sehingga menghasilkan dalil-dalil yang memiliki inti kalau teori belajar adalah alat bantu yang sistematis dalam proses belajar. Teori-teori belajar dikalangan psikolog bersifat eksperimental, dimana teori yang mereka kemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman mereka ketika dalam kegiatan belajar berlangsung. Dari interaksi tersebut, para psikolog menyusun proposisi yang mereka tekuni sehingga menghasilkan madzhab yang mereka ciptakan itu bisa digunakan sebagai landasan pola pikir mereka. Sejarah  perkembangan  pengetahuan  umat  manusia  mencatat  bangsa  Yunani  Kuno sebagai bangsa yang mengalami zaman keemasan bagi proses berpikir. Berbagai karya fikiran manusia secara teoritis meliputi banyak aspek dalam hidup  terutama di bidang  filsafat sehingga dapat dikatakan sebagai karya-karya terbesar sepanjang zaman. Pengaruh karya-karya filsafat Yunani kuno tetap terasa hingga saat ini. Di antara filsuf Yunani yang paling popular ajarannya adalah tiga tokoh utama Socrates, Plato dan Aristoteles. Berabad-abad setelah ketiga tokoh utama Yunani tersebut tidak terdapat perkembangan lebih lanjut dari pengetahuan atau teori mengenai proses belajar dan perkembangan diri manusia. Bahkan setelah Romawi berkuasa di seluruh Eropa, belajar lebih  difokuskan  pada  seni  perang dan baca  tulis serta  seni  sastra  menjadi  kurang berkembang.
Perang demi perang yang terjadi mengikis kecintaan masyarakat terhadap pengetahuan dan seni. Hingga akhirnya kondisi Romawi semakin memburuk. Pada abad-abad pertengahan itulah muncul gerakan Islam dari daerah timur tengah, yang sedemikian cepat menyebar dan menguasai daerah-daerah yang sebelumnya menjadi kekuasaan Romawi   dan   Persia, harus diketahui bahwa teori belajar tidak hanya dikemukakan oleh tokoh-tokoh Barat, tetapi jauh sebelumnya para tokoh Islam, baik hidup di era klasik, pertengahan, maupun yang hidup di era modern, telah membahas tentang  belajar  dan  pembelajaran dalam  karyanya masing- masing. Tetapi  gagasan mereka tentang  teori  belajar secara umum masih kurang mendapat perhatian terutama yang bergelut dalam dunia pendidikan. Tokoh-Tokoh Islam di era klasik diantaranya Al-Ghazali (450 H / 1058 M-18 Desember 1111M) dan Ibnu Kaldun (. Dalam gerakan Islam ini, terdapat suatu ajaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga setelah itu banyak sekali ilmuwan-ilmuwan muslim mengeksplorasi dan mengembangkan teori-teori keilmuan bangsa Yunani yang sebelumnya seolah mati. Oleh karena itu, menurut rumpuan teori disiplin mental dari kelahirannya atau secara herediter, anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Ada beberapa teori yang termasuk rumpun disiplin mental/teori belajar klasik yaitu:
a.    Teori disiplin mental theistik, berasal dari psikologi daya seperti mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya.
b.    Teori disiplin mental humanistik, lebih mementingkan keseluruhan, keutuhan.
c.    Teori disiplin mental naturalis, teori ini mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melaksanakan tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk berkembang dan belajar sendiri.
d.   Teori appersepsi/hebartisme, teori ini membantu anak untuk mempunyai kemampuan dalam mempelajari sesuatu dan menguasai pengetahuan selanjutnya.
3.    Ilmuwan Teori Belajar Klasik dan Pembelajaran
a.       Ilmuwan Barat
Di antara filsuf Yunani yang paling popular ajarannya adalah tiga tokoh utama Socrates (470–399 SM), Plato (427–347) dan Aristoteles (384323 SM). Mereka bertiga secara berurutan merupakan guru dan murid (Aristoteles murid Plato, dan Plato adalah murid Sokrates)  sehingga  secara  substansial  banyak pemikiran  di  antara  ketiganya yang memiliki kesamaan. Socrates merupakan tokoh yang mengembangkan metode dialektika/kritis untuk mencari kebenaran. Bagi Sokrates kebenaran bukanlah sesuatu yang bersifat statis sehingga hanya diajarkan melalui transfer yang dogmatis melainkan melalui suatu  diskusi yang kritis (mendalam). Diantara kebenaran yang harus dicari dan diajarkan, Socrates menganggap kebenaran yang bersifat sosial (etika diantara sesama manusia) yang yang paling utama. Perkembangan teori belajar sebelum abad ke-20 dikembangkan tanpa dilandasi oleh eksperimen. Jadi teori-teori belajar yang muncul sebelum abad ke-20 merupakan hasil dari pengalaman, orientasi filosofi (berfikir secara mendalam). Beberapa teori belajar sebelum abad ke-20 adalah teori disiplin mental (Socrates, Plato, Aristoteles, dan lain sebagainya) atau dikenal dengan sebutan teori disiplin mental humanistik, teori diiplin mental naturalis (natural unfoldment) yang dikembangkan oleh Jean J. Roussseau (1712-1778), Swiss Heinrich Pestalozzi (1746-1827) seorang ahli pendidik, dan dari Jerman Friedrich Froebel (1782-1852) adalah seorang ahli filsafat, pedidik dan penemu gerakan “Kindegarten”, teori appersepsi (herbartisme) oleh Johan  Friedrich Herbart 1776-1841.
b.      Ilmuwan Islam
Di awal era pertumbuhan Islam, dunia pengetahuan mengalami zaman keemasan dengan bermunculannya ilmuwan-ilmuwan muslim yang sampai sekarang penemuannya masih digunakan dan menjadi rujukan sebagai dasar dari perkembangan pengetahuan modern, tetapi karena kurangnya publisitas dan banyaknya peristiwa sejarah yang menjadikan nama-nama mereka kurang dikenal bahkan di kalangan para umat Islam itu sendiri. Ilmuwan tersebut diantaranya Imam Al Ghazali (450 H-505 H) yang berpandangan bahwa “sesungguhnya hasil ilmu itu ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, menghubungkan diri dengan ketinggian malaikat dan berkemampuan dengan malaikat tinggi”. “Dan ini sesungguhnya adalah dengn ilmu yang berkembang melalui pelajaran dan bukan ilmu yang beku yang tidak berkembang”.[6] Jika kita perhatikan pada kutipan yang pertama kata “hasil” menunjukkan proses, kata mendekatkn diri kepada Allah menunjukkan tujuan, dan kata ilmu menunjukkan alat sedangkan pada kutipan kedua merupakan penjelasan, dan lain sebagainya mengenai ilmu yakni disampaikan dalam bentuk pengajaran. Ibn Khaldun (.
B.    Teori-Teori Klasik dalam Belajar dan Pembelajaran
1.      Teori Disiplin Mental Theistik
a.    Pengertian Teori Disiplin Mental Theistik
Teori belajar ini berasal dari psikologi daya dan menurut teori ini bahwa individu atau anak memiliki sejumlah daya mental seperti pikiran, ingatan, perhatian, kemampuan, keputusan, observasi, tanggapan dan lain sebagainya. Masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan-latihan dan manusia hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya dirasakan ketika dipergunakan untuk sesuatu hal. Seseorang belajar didasari oleh kesiapan mental yang terdiri dari jumlah daya (kekutan) yang dimana satu sama lain terpisah. Teori ini memandang bahwa belajar pada bahan ajar telah mempunyai nilai dan nilai tersebut terletak pada formalnya, bukan pada materinya. Artinya, apapun materi ajar yang dipelajari seseorang tidaklah penting, melainkan yang penting adalah pengaruhnya dalam membentuk daya-daya tertentu. Teori ini juga didasarkan pada suatu konsep bahwa manusia merupakan suatu sistem energi yang dinamis meliputi respon terhadap rangsangan, dorongan, dan proses penalaran untuk memelihara kesimbangan dalam merespon sistem-sistem energi lain sehingga pembelajaran dapat berinteraksi melalui rasa. Merujuk pada teori ini, juga mendasar adanya tingkah laku (behaviorisme) manusia merupakan tanggapan (respon) terhadap ransangan (stimulan) yang disebabkan oleh sesuatu yang dilihatnya. Jadi, terjadinya tingkah laku disebabkan oleh sesuatu yang lain sehingga munculah dua aliran: koneksinoisme/sosianisme yaitu terjadinya tingkah laku manusia karena respon yang disebabkan oleh stimulan lain dimana satu dengan yang lainnya saling berhubungan; konotivisme, yakni terjadinya tingkah laku manusia karena kemampuan untuk mengetahui dan membuat hubungan antara komponen yang diketahuinya, kemampuan mengetahui (kognitif) inilah menjadi respon seseorang terhadap stimulan yang semakin kuat.
Selain itu, jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, mengingat, berpikir, merasakan, kemauan dan sebagainya. Tiap daya mempunyai fungsinya sendiri-sendiri dan tiap orang mempunyai/memiliki semua daya-daya itu, namun yang membedakan hanyalah kekuatannya saja. Agar daya-daya itu berkembang (terbentuk) maka hal tersebut perlu dilatih sehingga dapat berfungsi dengan baik. Teori ini bersifat formal, karena mengutamakan pembentukan daya-daya. Apabila suatu daya telah dilatih maka secara tidak langsung akan mempengaruhi daya-daya lainnya dan seseorang dapat melakukan transfer of learning terhadap situasi lain. Untuk itulah, kurikulum harus menyediakan mata pelajaran-mata pelajaran yang dapat mengembangkan daya-daya tersebut. Tekanannya bukan terletak pada isi materinya, melainkan pada pembentukannya. Pendidikan dengan latihan pemilihan mata pelajaran dilakukan atas dasar pembentukan daya-daya secara efisien dan ekonomis. Kurikulum terorganisir diperuntukkan bagi semua anak, dan kurang mementingkan isi serta minat anak. Kebudayaan ditanamkan pada anak untuk mempersiapkannya ke tujuan masyarakat. Berkat kemajuan dalam psikologi, maka munculah teori-teori baru yang disebut Phrenologi.
Phrenologi adalah kombinasi antara psikologi daya dan fisiologi yang pada prinsipnya menyatakan bahwa otak kita terbagi menjadi beberapa daerah dan tiap daerah mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Tiap fungsi itu terletak pada bagian tertentu pada otak. Dengan demikian terdapat karakteristik mental individual. Tiap fungsi mempunyai pusatnya masing-masing dan mengandung kesatuan fungsional. Teori tentang belajar yang berlandaskan psikologi daya merupakan teori belajar yang pertama kali muncul. Menurut para ahli psikologi daya, mental itu terdiri dari sejumlah daya yang satu sama lain terpisah. Mengingat misalnya, dapat dilatih melalui hafalan, berpikir melalui berhitung, demikan pula dengan daya yang lain. Belajar menurut teori ini adalah meningkatkan kemampuan daya-daya melalui latihan. Nilai suatu bahan pelajaran terletak pada nilai formalnya, bukan pada nilai materialnya. Jadi, apa yang penting tidak dipersoalkan sebab yang penting dari suatu bahan pelajaran adalah pengaruhnya dalam membentuk daya-daya tertentu. Kemampuan daya yang sudah terbentuk dan berkembang pada seseorang dialihkan pada situasi baru dalam kehidupan. Teori daya tidak berkembang luas seperti teori asosiasi dan teori gestalt sehingga tidak begitu populer.
b.    Ciri-Ciri Teori Disiplin Mental Theistik
Lebih menekankan pada kemandirian dan keterlibatan psikis, namun tidak terlalu mementingkan fisik yang bertujuan untuk meningkatkan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik.
c.    Pandangan Tokoh Teori Disiplin Mental Theistik
Christian Wolff (1679-1754), seorang ahli filsafat Jerman yang berpengaruh besar di abad ke 18 dan berpendapat bahwa pikiran atau otak manusia mempunyai kecakapan yang jelas dan berbeda-beda.[7] Kecakapan dasar tersebut adalah pengetahuan, perasaan, ingatan, dan akal budi inti sedangkan kecakapan akal budi meliputi kemampuan menggambarkan perbedaan-perbedaan dan menafsirkan atau menilai bentuk. Orang yang akan dapat belajar jika mental atau dayanya dilatih dengan keras terutama daya nalarnya dan selanjutnya belajar identik dengan mengasah otak.
d.   Paham Tokoh Muslim yang Identik dengan Teori Disiplin Mental Theistik
Konsep Ibn Jam’ah tentang metode pembelajaran banyak ditekankan pada hafalan ketimbang dengan metode lain. Sebagaimana dikatakan bahwa hafalan sangat penting dalam proses pembelajarannya, sebab ilmu didapat bukan dari tulisan di buku, melainkan dengan pengulangan secara terus-menerus.
e.    Kelebihan dan Kelemahan Teori Disiplin Mental Theistik
1)   Kelebihan Teori Disiplin Mental Theistik
a)   Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dengan melatih daya atau kemampuan peserta didik.
b)   Memperkaya pengetahuan dengan metode belajarnya yang dilakukan secara bertahap.
c)   Mendisiplinkan peserta didik
2)   Kelemahan Teori Disiplin Mental Theistik
Menyebabkan suasana belajar yang tegang dan menyeramkan jika dilaksanakan secara berlebihan sehingga kemungkinan dapat membebani mental peserta didik.
f.     Penerapan Teori Disiplin Mental Theistik dalam Pembelajaran
Pembelajaran yang melatih kemampuan (daya) peserta didik dapat dilakukan dengan mengamati gambar, mengingat kata, arti kata, dan lain sebagainya. Pembelajaran seperti ini dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dari berbagai keterampilan. Teori ini bersifat formal karena mengutamakan daya-daya dan terdapat karakteristik mental individual serta mengandung kesatuan fungsional.
2.      Teori Disiplin Mental Humanistik
a.    Pengertian Teori Disiplin Mental Humanistik
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya dan apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Pendekatan sistem tersebut dapat di lakukan agar para peserta didik dapat memilih suatu rencana pelajaran dan mereka dapat mencurahkan waktu bagi bermacam-macam tujuan belajar atau sejumlah pelajaran yang akan dipelajari atau jenis-jenis pemecahan masalah dan aktifitas-aktifitas kreatif yang mungkin dilakukan. Pembatasan praktis dalam pemilihan hal-hal itu mungkin di tentukan oleh keterbatasan bahan-bahan pelajaran dan keadaan tetapi dalam pendekatan sistem itu sendiri tidak ada yang membatasi keanekaragaman pendidikan ini. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si peserta didik untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Jadi, teori belajar humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
b.    Ciri-Ciri Teori Disiplin Mental Humanistik
Sekurang-kurangnya ada dua ciri khas gerakan humanistik. Ciri pertama dapat ditemukan dalam minat yang besar dan proyek untuk melanjutkan dan mengembangkan tradisi retorika dalam dunia Barat. Tradisi ini, yang umurya sudah setua para sofis Yunani, menekankan pentingnya peran para ahli pidato (orators atau rhetoricians) dalam zaman klasik, yakni mereka yang menyediakan bentuk paling umum pendidikan tinggi. Dalam zaman klasik, orang cukup bisa membaca dan berbicara dengan fasih untuk dipandang sebagai orang yang berpendidikan. Para tokoh humanis mengembangkan sebuah keyakinan baru bahwa cara yang paling baik untuk berbicara dengan fasih adalah dengan meniru para ahli pidato klasik, khususnya Cicero (106-43 SM). Dalam hal ini Renaissance dapat dikatakan sebagai era Ciceronisme dalam studi dan peniruan terhadap gaya retorikanya. Dalam banyak karyanya termasuk De Officiis (mengenai tanggung jawab publik), Cicero menekankan pentingnya kefasihan berbicara (eloquence) sebab adakah hal lain yang lebih baik daripada kefasihan berbicara dalam membangkitkan kekaguman di antara para pendengarnya, harapan bagi orang yang sedang berkesusahan, atau rasa syukur bagi mereka yang bernasib baik.[8] Para humanis setuju dengan apa yang diyakini Cicero yakni keterampilan dan cara beretorika yang baik selain menyentuh akal budi juga menggugah imajinasi dan emosi yang akan membawa para pendengar ke arah tindakan yang positif. Sementara karya-karya retorikanya memuat teori, orasi-orasi Cicero, surat-surat, serta dialog-dialognya menjadi contoh konkret bagi banyak orang mengenai berbagai bentuk literatur prosa.
Secara khusus para humanis menaruh minat pada sintesa filsafat dan retorika dalam karya-karya Cicero. Semangat ini kemudian menjadi gagasan ideal bagi para humanis yakni kombinasi antara kefasihan berbicara (eloquence) dan kebijaksanaan (wisdom), yang cukup banyak mewarnai corak literatur Renaissance. Ciri khas kedua humanistik berkaitan erat dengan tujuan umum pendidikan humanistik sebagai persiapan atas tugas pelayanan public dimana yang ditanamkan di sini adalah keutamaan sivik (civic virtue). Dalam De Officiis, Cicero membangun relasi antara setiap individu dan seluruh komunitas umat manusia, dan secara khusus antara seorang warga negara dan negaranya "Tidak ada relasi sosial yang lebih erat daripada relasi yang menghubungkan kita semua dengan negara kita." Menurut Cicero, segala yang kita miliki, termasuk bakat dan keterampilan kita, harus dibagi-bagikan kepada orang lain demi perbaikan dan kesejahteraan seluruh masyarakat: "Seperti diungkapkan dengan penuh kekaguman oleh Plato, kita dilahirkan bukan untuk diri kita sendiri.[9] Negara kita pun mengklaim bagian dari kita, demikian juga para sahabat kit, sebagai manusia juga dilahirkan untuk manusia lainnya, supaya kita dapat saling menolong satu sama lain. Dalam hal ini kita harus mengikuti alam sebagai petunjuk, dalam memberikan sumbangan bagi kebaikan umum melalui pertukaran tindakan baik (acts of kindness), dengan saling memberi dan menerima. Dengan keterampilan, ketekunan, dan bakat yang kita miliki, dapatlah kita merekatkan masyarakat manusia secara lebih dekat, dari pribadi ke pribadi.[10]
Menurutnya bahwa pendidikan seharusnya diarahkan kepada pembentukan kepribadian peserta didik: "Filsuf etika yang benar dan guru keutamaan yang berguna adalah mereka yang maksud pertama dan terakhir mereka adalah membuat pendengar dan pembaca menjadi baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajar apa itu keutamaan dan apa itu kejahatan serta mendengungkan ke dalam telinga kita kehebatan nama yang satu [yakni keutamaan] dan keburukan nama yang lain [kejahatan], melainkan juga menaburkan ke dalam hati kita, cinta akan yang terbaik (the best) dan keinginan yang kuat untuk memilikinya, dan pada saat yang sama kebencian terhadap yang terburuk (the worst)dan bagaimana cara menjauhinya."
c.    Pandangan Beberapa Tokoh Teori Disiplin Mental Humanistik (Humanistik Klasik)
1)   Socrates
Gagasan-gagasan folosofisnya dan metode pengajarannya ditunjukkan untuk mempengaruhi secara mendalam dan abadi terhadap teori dan praktek pendidikan di seluruh dunia Barat. Prinsip dasar pendidikan socrates adalah metode dialektis/metode kritis yang direncanakan untuk mendorong seorang yang belajar agar berfikir secara cermat, menguji coba diri sendiri, dan untuk memperbaiki pengetahuannya. Seorang pendidik tidak memaksa wibawanya atau memaka gagasannya dan pengetahuan kepada peserta didik serta dituntut untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri dengan berfikir kritis.
Tujuan pendidikan yang benar menurutnya adalah untuk merangang penalaran yang cermat dan disiplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan standar moral yang tinggi. Dalam pendidikan socrates mengemukakan sistem atau cara befikir yang bersifat induksi yakni menyimpan pengetahuan  yang bersifat umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal yang khusus (segala sesuatu yang dibicarakan dan cara penyelesaiannya harus bersumber pada hal-hal yang empiris. Dasar filsafat socrates adalah pada setiap individu anak didik telah ada potensi untuk mengetahui kebenaran dan kebaikan serta kesalahan sehingga seseorang sekalipun kelihatannya bodoh mungkin pula berpendapat/berbuat sebaliknya. Metode socrates ini dapat  merangsang seseorang untuk menganalisis suatu masalah dengan sebuah analogi dan berfikir kritis tentang suatu argumen.
2)   Plato
Plato adalah seorang filssuf dan matematikawan Yunani, pendiri Akademi Platonik di Athena (sekolah tingkat tinggi pertama di barat). Pemikiran plato banyak dipengaruhi socrates dan ia dikenal sebagai bapak logika. Atas pengaruh dari Socrates, Plato yakin bahwa pengetahuan itu dapat dicapai, dimiliki dengan sepenuhnya. Pengetahuan yang sifatnya sempurna dan sebagai objek yang benar-benar nyata dari bentuk aslinya, baginya ia akan permanen dan tidak akan pernah berubah. Keyakinan akan identifikasi semacam ini bisa disimak dalam ajaran ide-idenya, khususnya dalam konsep dua dunianya: dunia ideal dan dunia indrawi. Baginya, klaim bahwa pengetahuan itu berasal dari pengalaman akal (pandangan ini dikenal dari kelompok empirisisme), sungguh sesuatu yang janggal adanya.
Obyek-obyek pengalaman akal hanyalah fenomena yang pada akhirnya akan berubah seiring berubah dunia indrawi. Dengan begitu, obyek-obyek pengalaman bukanlah obyek pengetahuan yang tepat. Ada dua sumbangan terpenting Plato bagi teori pengetahuan, yakni pertama pengetahuan itu adalah peringatan tentang apa yang telah ada dalam pikiran, bukan mempersepsi benda-benda baru, dan kedua adalah Teori Ide-Ide yang menekankan jalan pencarian dengan akal untuk menemukan Ide-Ide atau yang universal di dalam budinya sendiri. Seperti yang telah dijelaskan di awal tadi bahwa kelompok empirisisme begitu ditentang oleh Plato. Menurut Plato, dewasa ini yang merupakan pengetahuan yang datang melalui indra, dianggap benar dan ilmiah. Ia menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat diandalkan dan pengetahuan sejati harus datang dari tempat lain, yakni bahwa pengetahuan itu telah ada sebelumnya.[11] Berkaitan dengan pemahaman Plato, Socrates pun pernah mengklaim bahwa kita tidak belajar tetapi mengingat. Pengetahuan selalu dan telah ada di dalam pikiran kita. Kita mempunyai pengetahuan dari saat sebelum kita lahir. Berdasarkan hal itu, Plato mempunyai kemantapan bahwa pendidikan dan pengalaman tidak berpengaruh, pengetahuan sejati merupakan bawaan dalam diri kita. Kita tidak harus mengandalkan indra untuk memperoleh pengetahuan mengenai dunia. Pengetahuan sejati terdiri dari ide-ide yang telah ada dalam pikiran, bukan ide-ide yang datang pada kita melalui indra.
3)   Aristoteles
Serupa halnya dengan Plato, Aristoteles juga mengemukakan tentang adanya dua pengetahuan, yakni pengetahuan indrawi dan pengetahuan akali. Pengetahuan indrawi merupakan hasil dari keadaan konkrit sebuah benda, sedangkan pengetahuan akali merupakan hasil dari hakekat jenis benda itu sendiri. Memang, pengetahuan indrawi mengarah kepada ilmu pengetahuan tetapi ia sendiri bukan ilmu pengetahuan lantaran ilmu pengetahuan hanya tersdiri dari pengetahuan akali. Itu sebabnya mengapa Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa ilmu pengetahuan tidaklah didapat dari hal-hal yang konkrit, melainkan mengenai hal-hal yang sifatnya universal. Namun demikian, Aristoteles sangat menentang pendapat Plato gurunya. Ia berpendapat bahwa dunia yang sesungguhnya adalah dunia real, yakni dunia nyata yang bermacam-macam, bersifat relatif dan berubah-ubah.
Dunia ide, sebagaimana anggapan Plato, hanyalah dunia abstrak yang bersifat semu, terlepas dari pengalaman. Itu sebabnya pandangan Aristoteles lebih dikenal sebagai paham realis (realisme). Akal tidaklah mengandung ide-ide bawaan, melainkan mengabstraksikan ide-ide yang terdapat dalam bentuk benda-benda berdasar hasil tangkapan indrawi. Bertolak dari gurunya, pandangannya lebih bersifat common-sense ketimbang idealis. Baginya, pengetahuan adalah persepsi, dunia natural adalah dunia nyata, dan persepsi dan pengalaman indrawi adalah dasar pengetahuan ilmiah. Sebagai filsuf realis, sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan sangatlah besar, dan sampai sekarang masih kerap digunakan, yakni mengenai abstraksi: aktifitas rasional dimana seseorang memperoleh pengetahuan. Tentang abstraksi tersebut, ada tiga macam menurut Aristoteles sendiri, yakni: abstraksi fisis/fisika, abstraksi matematis, dan abstraksi teologi/metafisis. Aristoteles meneruskan konsep-konsep dasar dari gurunya tersebut dengan menambahkan  metode-metode  yang  lebih  bervariasi.  Tambahan  yang  paling  utama adalah pada metode pencarian kebenaran, jika menurut sokrates dan plato adalah melalui dialektika, maka menurut Aristoteles lebih utama menggunakan observasi langsung di alam (fisika) untuk kemudian direnungkan menggunakan logika analitis menghasilkan kebenaran yang lebih dalam yang disebutnya metafisik
d.   Paham Tokoh Muslim yang Identik dengan Teori Disiplin Mental Humanistik
Persentuhan peradaban Islam dengan peradaban luar, termasuk ajaran humanistik, ada beberapa tokoh pendidikan Muslim yang ikut mengembangkan ajaran-ajaran humanistik yang kemudian diselaraskan dengan ajaran Islam. Di antaranya al-Farabi (abad ke-9 M), Ibn Sina (abad ke-10), Ibn Rusyd (abad ke-13) dan Jalaluddin Rumi (abad ke-13). Mereka mendasarkan pemikirannya pada sumber-sumber kitab suci al-Qur’an, diperkuat dengan ide-ide dari falsafah Yunani dan Persia yang berkembang sebelumnya. Terdapat persamaan, sekaligus terdapat banyak perbedaan antara humanisme yang difahami di Eropa dengan humanistik yang dan dalam Islam.[12] Berikut pemikiran al-Ghazali, salah satu pemikir pendidikan Islam yang ikut berkecimpung dalam mengembangkan ajaran humanisme dalam Islam. Sebagaimana ajaran Islam, beliau berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam harus bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan bukan untuk mencari kehidupan dunia yang semu, karena itu tujuan pendidikan menurut beliau haruslah berangkat dari ketulusan demi mendapatkan ridho Allah Swt dan untuk menhindari penyakit hati yang membawa manusia jauh dari ridho-Nya. Tujuan pendidikan yang menurut beliau penting tentu akan mendapatkan balasan yangsetimpal dari Allah Swt yaitu kehidupan Akhirat yang abadi.[13] Pemikiran beliau dapat kita lihat dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumuddin, dalam kitab ini ada beberapa kategori, seperti, eksistensi guru merupakan keutamaan yang meninggalkan bagi si murid sebuah kemulian, menurut beliau pekerjaan menjadi guru adalah perbuatan yang sangat mulia sebagaimana mulianya ilmu dalam kehidupan manusia; murid sebagai objek ajar haruslah meniatkan tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan selanjutkannya agar memuliakan guru, merasa setubuh dengan guru-gurunya lainnya sehingga menghilangkan starata sosial yang menumbuhkan toleansi yang mulia. Menjauhkan diri dari mempelajari pikiran-pikiran(mazhab) yang dapat membawa kepada kekacaun dalam berpikir; kurikulum sebagai aturan pendidikan dianjurkan untuk tidak mempelajari ilmu sihir, nujum, dan ilmu perdukunan, hal tersebut dapat menimbulkan sikap syirik dan takabbur, tetapi ilmu yangharus dituntut adalah ilmu yang tentang ketauhidan dan ilmu-ilmu agama lainnya sebagaimana jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt, kemudian beliau mengkaterikan ilmu menjadi dua kategori yaitu sebagaimana beliau mengkategorikannnya menjadi ilmu wajib Ain dan ilmu yang wajib kifayah.[14] Metode Pengajaran, beliau menekankan pada metode kharismatik guru sebagai percontohan bagi murid karena kesuksesan dalam proses belajar itu dikarenakan kemahiran dan kepintaran guru dalam mengajarkan ilmu-ilmu melalui metode yang tepat sasaran.[15] Dari pemikiran beliau diatas ada beberapa penekanan dalam nenentukan sikap dalam mempelajari ilmu pengetahuan, yang diantaranya adalah penekanan ketika menumbuhkan jiwa yang ikhlas sehingga manusia dapat mendekatkan diri kepada Allah juga Allah Swt senantiada ridho disetiap pekerjaan, kristalisasi dari pemikiran beliau adalah identik dengan aliran sufisme
e.    Kelebihan dan Kelemahan Teori Disiplin Mental Humanistik
1)   Kelebihan Teori Disiplin Mental Humanistik
d)  konsepnya yang menyeluruh tentang manusia, pandangan dan perhatian terhadap isi pembelajaran dan mempunyai dasar-dasar filosofis yang relatif lebih lengkap dibandingkan teori lainnya.
e)   Cocok diterapkan pada materi-materi yang bertujuan untuk pembentukan kepribadian, retorika dan sebagainya.
f)    Suasana kelas lebih bergairah karena guru hanya bersifat sebagai pengarah bukan pengajar.
2)   Kelemahan Teori Disiplin Mental Humanistik
a)   Teori ini susah untuk diterjemahkan ke dalam langkah-langkah praktis.
b)   Progres yang dialami seorang siswa dengan siswa lainnya akan jauh berbeda, karena siswa tidak diajar akan tetapi hanya diarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan
f.     Penerapan Teori Disiplin Mental Humanistik dalam Pembelajaran
Praktek ajaran humanisme tetap terlihat di sekolah-sekolah khususnya di Pesantren. Pesantren-pesantren, bahkan perguruan tinggi banyak mengkaji pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam literatur-literatur klasik, seolah-olah merupakan sebuah kebenaran persisi seperti yang ajarkan oleh paham humanistik. Meski demikian, ajaran-ajaran Humanisme yang diterapkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi tidak sepenuhnya sama dengan Humanisme yang kita kaji. Meski di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi mempelajari literatur-literatur klasik sebagai sumber kebenaran, akan tetapi guru tidak hanya berfungsi sebagai pengarah akan tetapi juga sebagai pemberi informasi. Tampaknya di Indonesia, prinsip pengetahuan telah dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir tidak dianut dan diterapkan. Manusia bagaikan wadah kosong yang akan berubah corak sesuai dengan pengaruh lingkungan. Paham murni humanisme murni untuk diterapkan di sekolah-sekolah peluangnya sangat kecil. Namun dengan modifikasi dan kombinasi dengan ajaran lain, paham Humanisme sangat mungkin untuk diterapkan.
3.      Teori Disiplin Mental Naturalis/Aktualisasi Diri
a.       Pengertian Teori Disiplin Mental Naturalis
Naturalisme berasal dari kata natura] yang berarti alami dan isme  berarti paham. Aliran ini dipelopori oleh J.J.Rousseau. Aliran ini menjelaskan bahwasanya segala sesuatu yang alamiah (pembawaan) cenderung baik sehingga pendidikan internal adalah pendidikan yang paling baik sedangkan pendidikan eksternal memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap perkembangan anak. Naturalisme merupakan aliran yang menyakini adanya pembawaan dan juga milieu (lingkungan). Namun demikian, ada dua pandangan besar mengenai hal ini. Pertama disampaikan oleh Rousseau yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia baik, namun jika ada yang jahat, itu karena terpengaruh oleh lingkungannya. Kedua, disampaikan oleh Mensius yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia itu jahat. Ia menjadi manusia yang baik karena bergaul dengan lingkungannya. Dua pendapat ini jelas memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Satu sisi memandang sisi jahat manusia bersumber dari lingkungan, sementara pendapat lain menyatakan bahwa sisi jahat itu sendiri yang justru berada pada diri manusia. Namun, jika memperhatikan dua pendapat ini memiliki sisi kebenaran yang sama jika ditilik dari sudut genetis. Jika melihat faktor ini, manusia yang secara genetis tidak baik, maka ia akan menjadi manusia yang seperti ini, begitupun sebaliknya. Menurut paham naturalisme paling tidak ada lima tujuan pendidikan, kelima pendapat itu disampaikan oleh Spencer yang terdiri dari  pemeliharaan diri, mengamankan kebutuhan hidup, meningkatkan anak didik, memelihara hubungan sosial dan politik, serta menikmati waktu luang. Dari lima tujuan pendidikan ini, jelas bahwa aliran naturalisme ini mementingkan manfaat pendidikan dengan menjadikan pemeliharaan diri menjadi faktor utama yang kemudian disusul dengan kebutuhan hidup. Kedua faktor tersebut akan tercapai jika faktor faktor ketiga secara maksimal dilaksanakan. Agar maksimal maka faktor keempat dan kelima yang kemudian menjadi perhatian dalam melakukan pendidikan. Selain itu menurut Spencer ada delapan prinsip dalam proses pendidikan beraliran naturalisme. Delapan prinsip tersebut adalah:[16]
1)   Pendidikan harus menyesuaikan diri dengan alam
2)   Proses pendidikan harus menyenangkan bagi anak didik
3)   Pendidik harus berdasarkan spontanitas dari aktivitas anak
4)   Memperbanyak ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dalam pendidikan
5)   Pendidikan dimaksudkan untuk membantu perkembangan fisik, sekaligus otak
6)   Praktik mengajar adalah seni menunda
7)   Metode intruksi dalam mendidik menggunakan cara induktif
8)   Hukuman dijatuhkan sebagai konsekuensi alam akibat melakukan kesalahan. Kalaupun dilakukan hukuman, hal itu harus dilakukan secara sistematik.
Karakter khas yang terlihat dari aliran naturalisme ini, adalah bagaimana anak berkembang secara wajar. Hal ini dapat dilihat pada poin nomor tiga yang menyatakan bahwa pendidikan harus berjalan spontan. Akan tetapi, spontanitas itu bukan berarti tidak bermutu. Justru menurut naturalisme, spontanitas merupakan sarana untuk mendapat pengetahuan baik berupa fisik maupun otak seperti yang tersebut pada poin empat dan lima, Jadi jelaslah, bahwa naturalisme menghendaki bahwa pendidikan yang berjalan secara wajar tanpa intervensi yang berlebihan sehingga membuat anak tersebut justru merasa terancam. Hal ini dilakukan atas dasar, bahwa anak memiliki potensi insaniyah yang memungkinkan untuk dapat berkembang secara alamiah. Seorang anak memiliki kebebasan penuh untuk mengekspresikan diri menurut kodrat yang baik. Seorang pendidik tidak boleh melarang, memberi hukuman atau hadiah, menuntut ketaatan, ketekunan, menanamkan kebiasaan dan sebagainya kepada peserta didik. Alamlah yang memimpin dan memerintah anak didik. Dalam pendidikan  seorang anak hanya boleh mendapat hukuman dari alam. Aliran ini menggunakan pendidikan tak disengaja karena ia membiarkan anak berkembang sendiri tanpa pengaruh. Pendidikan tak punya kuasa, alamlah yang berkuasa. Pembawaan ini disebut juga bakat. Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis yang dimiliki seseorang. Bakat merupakan warisan dari orang tua, dan selebihnya berasal dari nenek-kakek dan moyangnya dari kedua belah pihak (ibu atau bapak). Pembawaan ini berupa potensi-potensi yang tersimpan dalam diri anak. Berkembang atau tidaknya potensi ini masih bergantung pada faktor lain. Tetapi tanpa adanya potensi ini tidak mungkin terjadi perkembangan.
b.      Ciri-Ciri Teori Disiplin Mental Naturalisme
1)   Manusia adalah baik dan aktif
2)   Berpusat pada perasaan dan kemanusiaan
3)   Belajar adalah pengkondisian lingkungan
4)   Proses aktualisasi
c.       Pandangan Beberapa Tokoh Teori Disiplin Mental Naturalisme
Tokoh aliran ini adalah J.J Rousseau. Ia adalah filosof prancis yang hidup tahun 1712-1778. Naturalisme berasal dari kata “nature” artinya alam atau apa yang dibawa sejak lahir. Hampir senada dengan aliran nativisme, maka aliran ini berpendapat bahwa hakikatnya semua anak sejak dilahirkan adalah baik. Bagaimana hasil perkembangannya sangat ditentukan oleh pendidikan yang diterimanya atu yang mempengaruhinya. Jika pengaruh atau pendidikan itu baik, maka akan menjadi baiklah ia, akan tetapi jika pengaruh itu jelek, maka akan jelek pula hasilnya. Seperti dikatakan oleh tokoh aliran ini, “Semua anak adalah baik pada waktu datang dari tangan Sang Pencipta, tetapi semua jadi rusak ditangan manusia”. Oleh karena itu sebagai pendidik Rousseau mengajukan pendidikan alam, artinya, anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya manusia atau masyarakat jangan banyak mencampurinya.[17] Disiplin mental naturalisme memiliki tiga prinsip dalam proses pembelajaran, yaitu:
1)      Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan didalam dirinya secara alami.
2)      Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu mendorong keberanian anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab belajar terletak pada diri anak didik sendiri.
3)      Program pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat  dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola  belajar anak didik. Anak didik secara bebas diberi kesempatan untuk menciptakan lingkungan belajarnya sendiri sesuai dengan minat dan perhatiannya.
Dengan demikian, disiplin mental naturalisme menitik beratkan pada strategi pembelajaran yang bersifat paedosentris. Artinya faktor kemampuan individu anak didik menjadi pusat kegiatan proses belajar-mengajar.
d.      Paham Tokoh Muslim yang Identik dengan Teori Naturalis
Tokoh aliran ini adalah  J.J. Rousseau seorang filosof Prancis yang hidup tahun 1712-1778. Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai
pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan. Natiralisme memiliki tiga prinsip tentang proses pembelajaran yaitu:
1)      Anak didik belajar sendiri melalui pengalaman sendiri, kemudian terjadi interaksi antara pengalaman.
2)      Pendidikan hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan, tanggung jawab terletak pada diri anak didik sendiri.
3)      Progam pendidikan di sekolah harus disesusaikan dengan minat dan bakat anak didik. Anak didik secara babas diberi kesempatan untuk menciptakan lingkungan belajarnya sesuai dengan minat dan perhatiannya
Dengan demikian, aliran naturalisme menitikberatkan pada strategi pembalajaran yang bersifat paedosentris. Dalam hal ini pandangan islam mempunyai pandangannya sendiri terhadap aliran naturalisme. Dalam ajaran islam pada hakikatnya manusia sebagai kholifah di Bumi ini manusia mempunyai potensi untuk memahami, menyadari dan kemudian merencanakan pemecahan problem hidup dan kehidupannya. Secara definitif naturalisme berasal dari kata “nature.” Kadang pendefinisikan “nature” hanya dalam makna dunia material saja, sesuatu selain fisik secara otomatis menjadi supranatural, tetapi dalam realita, alam terdiri dari alam material dan alam spiritual, masing-masing dengan hukumnya sendiri. Era Pencerahan, misalnya, memahami alam bukan sebagai keberadaan benda-benda fisik tetapi sebagai asal dan fondasi kebenaran. Ia tidak memperlawankan material dengan spiritual, istilah itu mencakup bukan hanya alam fisik tetapi juga alam intelektual dan moral. Salah satu ciri yang paling menakjubkan dari alam semesta adalah keteraturan. Benak manusia sejak dulu menangkap keteraturan ini. Terbit dan tenggelamnya Matahari, peredaran planet-planet dan susunan bintang-bintang yang bergeser teratur dari malam ke malam sejak pertama kali manusia menyadari keberadaannya di dalam alam semesta, hanya merupakan contoh-contoh sederhana. Ilmu pengetahuan itu sendiri hanya menjadi mungkin karena keteraturan tersebut yang kemudian dibahasakan lewat hukum-hukum matematika. Tugas ilmu pengetahuan umumnya dapat dikatakan sebagai menelaah, mengkaji, menghubungkan semua keteraturan yang teramati.
Islam memandang aliran naruralisme adalah Aliran memandang bahwa manusia diciptakan agar dapat belajar dan berpikir untuk kembali kepada penciptaNya, dalam hal ini implikasi di dunia nyata bahwa proses pendidikan dilakukan dengan berafiliasi kepada prinsip keTuhanan. Implikasi di bidang pendidikan terhadap aliran filsafat naturalisme memandang bahwa sekolah merupakan hal utama yang akan mengembangkan proses belajar tiap peserta didik untuk dapat menemukan dan mengembangkan kepribadiannya dengan memperhatikan karakteristik dan perkembangan alam yang ada pada drinya sendiri. Naturalisme berpandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta fisik ini, bukan kenyataan spiritual atau supernatural. Kontribusi naturalisme dalam pendidikan Islam adalah guru paling alamiah dari seorang anak adalah kedua orang tuanya, pendidikan disesuaikan dengan perkembangan alam, alam diperkenalkan sebagai objek studi secara langsung, pendidikan berasal dari alam dan barang, dan mengembangkan akal dengan observasi.
e.       Kelebihan dan Kelemahan Teori Disiplin Mental Naturalis
1)   Kelebihan Teori Disiplin Mental Naturalis adalah individu bukan saja mempunyai potensi dan kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai tugas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk belajar dan berkembang sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya pendidik atau guru perlu menciptakan situasi yang permisif yang jelas. Melalui situasi demikian, ia dapat belajar sendiri dan mencapai perkembangan secara optimal.
2)   Kelemahan Teori Disiplin Mental Naturalis adalah
4.      Teori Appersepsi/Herbartisme
a.    Pengertian Teori Appersepsi/Herbartisme
Sebagai pelopor aliran Herbartisme, seorang psikolog Jerman bernama Herbart mengemukakan teori Vorstellungen (makna tanggapan-tanggapan yang tersimpan dalam kesadaran). Menurut teori ini belajar adalah mengusahakan adanya tanggapan-tanggapan sebanyak-banyaknya dan sejelas-jelasnya pada kesadaran individu. Implementasi dari teori ini dapat dilihat melalui pemilihan materi pelajaran yang sederhana, penting tetapi menarik dan diberikan sesering mungkin; serta adanya apersepsi diawal pembelajaran dan refleksi diakhir pembelajaran.
b.    Ciri-Ciri Teori Appersepsi/Herbartisme
1)   Dikembangkan sebagai psikologi belajar non eksperimental.
2)   Filosofis/spekulatif
3)   Introsfektif (dianggap tidak ilmiah)
c.    Pandangan Tokoh Teori Appersepsi/Herbartisme
Pandangan Herbart adalah teori tahap-tahap perkembangan budaya yang menyatakan bahwa ras manusia berkembang melalui tahap perkembangan budaya tertentu, dan tahap-tahap tersebut akan di ulangi dalam perkembangan individu; Seorang manusia yang baik memerintahkan dirinya sendiri, sifat dasar manusia terdiri dari dua factor, yaitu diri yang memerintah dan diri yang menolak. Mendidik orang muda agar dapat berbuat baik, bebas, dan mantap, terwujud apabila sifat dasarnya mau melakukan perbuatan tersebut; Jika dibekali satu perbuatan khusus untuk mereaksi terhadap hal-hal yang ada terhadap lingkungannya.
Herbartisme disebut juga teori herbartian atau apperception, tiga tahap pembelajaran menurut pandangan apperception yakni penerimaan rangsangan, ingatan - menghasilkan kembali apa yang diketahui, pemahaman - hasil pemikiran konsep dan generalisasi. Johan Friedrich Herbart mengembangkan psikologi belajar modern yang sistematis, yang lahir dari suatu teori tabula rasa tentang jiwa atau pikiran (mind). Herbart adalah seorang psikolog yang juga filsuf, dan juga seorang guru yang ahli, berasal dari Jerman. Pemikirannya yang mengagumkan dikembangkannya pada masalah-masalah pendidikan. Katanya, moralitas adalah inti objektivitas pendidikan. Ia ingin membuat anak-anak menjadi baik. Dari sanalah ia mengembangkan psikologi guna mencapai maksudnya. Pada permulaan tahun-tahun abad ke-20, saat teori Herbartianisme mendominasi pendidikan (terutama di Amerika Serikat), behaviorisme muncul dan menentangnya. Dengan demikian, jika orang ingin memahami atmosfir psikologi pada sekolah-sekolah sekarang, maka orang perlu mengetahui dan mengerti perkembangan, prinsip, dan implikasi teori apersepsi.
Herbart mengekalkan dualisme jiwa-badan yang umum pada saat itu. Hal ini merupakan kesejajaran psikofisik, di mana aspek psikis-jiwa, pikiran, memainkan peranan besar, terutama dalam proses belajar. Kesejajaran (parallelism) adalah teori jiwa dan badan menurut setiap variasi di dalam proses kesadaran mental, ada keseiringan (concomitant) proses badan atau neurologis. Namun tidak ada kausalitas hubungan antara jiwa dan badan, pikiran seseorang tidak mempengaruhi badannya; juga badan seseorang tidak mempengaruhi jiwanya. Ini menurut konsep dari teori ini. Dengan menggunakan konsep presentasi, apersepsi keadaan mental, dan banyaknya aperseptif, Herbart telah mengembangkan pasivitas kenetralan pikiran atau jiwa ke dalam suatu teori belajar mengajar secara sistematis. Ia berpikir bahwa pikiran atau jiwa itu tidak mempunyai bakat ataupun kecakapan alami dari pembawaan, baik untuk menerima maupun menghasilkan gagasan, dan bahkan tidak mempunyai penyusunan jarak jauh terhadap persepsi, berpikir, kemauan, atau kegiatan yang bersandar di dalamnya.
Ia menganggap bahwa pikiran tidak lebih sebagai suatu medan atau tempat pertempuran (battle-ground) dan gudang ide. Katanya lagi, ide mempunyai suatu kualitas yang aktif. Ide-ide dapat membawa kehidupannya sendiri dalam pikiran yang pasif. Jiwa atau pikiran adalah suatu kumpulan (potensi), bukan kecakapan, tetapi ide-ide dan kondisi mental. Di dalam metafisikanya, Herbart menganggap setiap orang itu merupakan satu kesatuan pikiran atau jiwa yang merupakan bagian dari realitas yang asasi, dan maka dari itu, ia ada, terutama untuk pengalaman. Sebagaimana pikiran atau jiwa itu tidak mempunyai ruang, dan memang sebenarnya ia tidak mempunyai ruang, atau sifat yang sementara. Jiwa tidak mempunyai bakat pembawaan alamiah, juga tidak mempunyai kecakapan apa-apa, dan tidak pula mempunyai maksud menerima atau memproduksi. Intinya, tidak ada konsep, perasaan, juga keinginan. Di dalam jiwa tidak ada tabula rasa, berarti ia mempunyai reseptivitas keunikannya sendiri. Ambisi Herbart adalah membangun suatu ilmu pikiran atau jiwa manusia yang paralel dengan ilmu-ilmu biologi dan fisika. Ia berpikir bahwa ciri-ciri atau karakter suatu jiwa atau pikiran itu terdiri atas sesusunan ide-ide, yang sangat mirip dengan elektron pada konsep fisika modern.
Oleh karena itu, yang namanya jiwa adalah kumpulan isi-isi sebagai hasil dari ide-ide tertentu yang disajikan manusia. Karena ia berpikir bahwa psikologi sebagai kimia mental, maka ia merasakan bahwa peran utama psikologi adalah mempelajari berbagai ikatan dan pencampuran (algamation) ide-ide atau kondisi mental di dalam pikiran. Penemuan prinsip penggabungan dan pengikatan kembali ide-ide seperti unsur-unsur kimia adalah tujuan Herbart dalam penelitian psikologi. Meskipun Herbart merasakan bahwa psikologinya adalah ilmiah. Memang ia menolak eksperimental dan penggunaan data psikologis, yang sudah menjadi dasar landasan psikologi behavioristik abad ke-20. Menurutnya, berpikir dan observasi merupakan metode yang sesuai untuk penemuan psikologis. Lebih lanjut, pengamatan yang dilakukan untuk jiwa atau pikiran adalah pengamatan diri atau introspeksi. Dengan melihat ke dalam pikirannya sendiri, Herbart berpikir bahwa kimia mental-nya dapat dijelaskan. Ia merasakan bahwa ilmu seperti fisika adalah eksperimental, namun berkesuaian dengan itu, ilmu untuk psikologi harus metafisik dan introspektif. Demikianlah teori apersepsi/herbart ternyata bersifat introspekstif dan metafisik, dan bukannya eksperimental. Berikut dilanjutkan dengan mengetahui cara bekerjanya teori apersepsi lima tahap belajar menurut Herbartian, Empat tahap belajar dari Herbart, yakni: kejelasan (clearness), asosiasi, sistem, dan metode, dikembangkan menjadi lima tahap oleh para pengikutnya, kemudian persiapan dan penyajian (asosiasi) menjadi perbandingan dan abstraksi sistem menjadi generalisasi mentode hingga aplikasi.
d.   Paham Tokoh Muslim yang Identik dengan Teori Appersepsi
Dalam setiap pembahasan materi pelajaran, Ibn Sina selalu membicarakan tentang cara mengajarkan kepada anak didik. Berdasarkan pertimbangan psikologisnya, Ibn Sina berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja, melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya. Penyampaian materi pelajaran pada anak menurutnya harus disesuaikan dengan sifat dari materi pelajaran tersebut, sehingga antara metode dengan materi yang diajarkan tidak akan kehilangan daya relevansinya. Metode pengajaran yang ditawarkan Ibn Sina antara lain metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, dan penugasan.[18]
e.    Kelebihan dan Kelemahan Teori Appersepsi/Herbartisme
1)   Kelebihan Teori Appersepsi/Herbartisme adalah peserta didik dapat menemukan potensi yang ada pada dirinya dengan adanya aktualisasi diri serta pengkondisian lingkungan yang nyaman sehingga peserta didik akan mampu melahirkan kreativitasnya.
2)   Kelemahan Teori Appersepsi/Herbartisme adalah peserta didik merasa tertekan dengan adanya dorongan atau banyaknya stimulus yang diberikan pendidik secara terus menerus yang menginginkan agar peserta didik memiliki pemahaman secara otomatis.
f.     Penerapan Teori Appersepsi/Herbartisme dalam Pembelajaran
Dalam praktek pembelajaran, adanya appersepsi awal serta refleksi pada akhir pembelajaran merupakan implementasi/penerapan teori ini, pemilihan materi pembelajaran yang sederhana, menarik, dan diberikan sesering mungkin.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahsan di atas, maka kesimpulan pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen. Berdasarkan unsur historisnya bahwa teori belajar klasik berkembang sebelum abad ke 20 yang dikenal dengan teori belajar disiplin mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam spelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah. Teori ini menganggap bahwa secara psikologi individu memiliki kekuatan, kemampuan atau potensi-potensi tertentu. Belajar adalah pengalaman dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi tersebut.
2.    Beberapa teori belajar sebelum abad ke-20 adalah teori disiplin mental (Socrates, Plato, Aristoteles, dan lain sebagainya), teori disiplin mental naturalis (natural unfoldment) yang dikembangkan oleh Jean J. Roussseau (1712-1778), Swiss Heinrich Pestalozzi (1746-1827) seorang ahli pendidik, dan dari Jerman Friedrich Froebel (1782-1852) adalah seorang ahli filsafat, pedidik dan penemu gerakan “Kindegarten”, teori appersepsi (herbartisme) oleh Johan  Friedrich Herbart 1776-1841. Ilmuwan Islam diantaranya Imam Al Ghazali, Ibn Khaldun, Ibnu Rusyd, dan lain sebagainya.
3.    Teori belajar ini berasal dari psikologi daya dan menurut teori ini bahwa individu atau anak memiliki sejumlah daya mental seperti pikiran, ingatan, perhatian, kemampuan, keputusan, observasi, tanggapan dan lain sebagainya. Masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan-latihan dan manusia hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya dirasakan ketika dipergunakan untuk sesuatu hal. Konsep Ibn Jam’ah tentang metode pembelajaran banyak ditekankan pada hafalan ketimbang dengan metode lain. Sebagaimana dikatakan bahwa hafalan sangat penting dalam proses pembelajarannya, sebab ilmu didapat bukan dari tulisan di buku, melainkan dengan pengulangan secara terus-menerus.
4.    Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri.
5.    Teori naturalitik menjelaskan bahwasanya segala sesuatu yang alamiah (pembawaan) cenderung baik sehingga pendidikan internal adalah pendidikan yang paling baik sedangkan pendidikan eksternal memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap perkembangan anak. Naturalisme merupakan aliran yang menyakini adanya pembawaan dan juga milieu (lingkungan). Pandangan Herbart adalah teori tahap-tahap perkembangan budaya yang menyatakan bahwa ras manusia berkembang melalui tahap perkembangan budaya tertentu, dan tahap-tahap tersebut akan di ulangi dalam perkembangan individu.

B.     Saran
Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu penulis berharap kritik yang membangun untuk penyempurnaan penulisan di masa mendatang.




DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Idi, Jalaluddin. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama. 1997.
Budiningsih,Asri. Belajar dan Pembelajara. Jakarta: Rieneka Cipa. 2005.
fidburhanuddin.2013.PenerapanAliranNaturalismedalam Pembelajaran.http://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/21/penerapan-aliran-naturalisme-dalam-pembelajaran-3/
Maksum, Ali. Pengantar Filsafat dari Masa Klasik hingga postmodernisme. Jogjakarta: Ar-ruzz Media. 2011.
Muhmidayeli. Filsafat Pendidikan. Bandung: Refika Aditama 2011.
Munstansyir, Rizal. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Putaka Pelajar. 2003.
Nata, Abuddin. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2003.







[1]  C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rieneka Cipa. 2005), h.20
[2] Jalaluddin Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), h. 104
[3] Agus N. Cahyo, Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler, (Jogyakarta: Divaa Press, 2013), h. 17
[4] Ibid, h. 17
[5] Ali maksum, Pengantar filsafat dari Masa Klasik hingga Postmodernisme, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2011), h. 355

[6] Irsyad Zamjani, Wacana Pendidikan Al-Ghazali: Jurnal Studi Agama dan Demokrasi, (Surabaya: Risalah Gusti, 2002), h. 215-216.
[7] Rizal Munstansyir. Filsafat Ilmu. (Yogyakarta: Putaka Pelajar, 2003), h.144
[8] Ali maksum, Op Cit,  h. 357
[9] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, (Bandung: Refika Aditama, 2011), h. 78.
[10] Ibid, h. 80
[11] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 26.
[12] Ibid, h. 31
[13] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h 74-75
[14] Ibid, h. 77
[15] Ibid, h. 78
[16] fidburhanuddin. 2013.Penerapan Aliran Naturalisme dalam Pembelajaran.http://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/21/penerapan-aliran-naturalisme-dalam-pembelajaran-3/
[17] Ibid
[18] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 74-75

Teori Belajar Klasik

Tugas: Makalah TEORI-TEORI KLASIK DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ...